Pertengahan Ramadhan Pasien Darah Tinggi Meningkat

Kota Bogor – Jelang pertengan lebaran pasien yang berkunjung dipuskesmas Pulo Armyn berkurang drastis, namun dari sepertiga pasien yang datang mengidap darah tinggi selebihnya batuk pilek, magh dan gangguang pencernaan,  hal ini dikatakan Kepala Puskesmas dr. Djohan Musali, M.Kes.

“hari pertama puasa pasien yang datang masih tinggi, namun dihari kedua hingga hari ini menurun drastis,”  kata Djohan, Rabu (23/05).

Menurut Djohan meskipun jumlah pasien menurun namun pelayanan dibulan suci ramadhan puskesmas tetap melayani full dengan dokter umum yang tetap siaga dan dokter gigi, bahkan khusus untuk persalinan puskesmas standbye 24 jam untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

“6 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, 6 orang bidan dan semua petugas tetap melayani seperti biasa meskipun dibulan ramadhan, ‘ tuturnya.

Salah seorang pasien bernama Eko (52thn) warga Tajur mengatakan bahwa dirinya memilih datang kepuskesmas untuk berobat, selain gratis menggunakan bpjs juga tidak terlalu ngantri dan khusus untuk pelayanan dipuskesmas pulo armyn cukup baik.

“pelayanan bagus ramah, dokternya juga baik dan tidak ngantri sperti dirumah sakit, ” ungkap Eko, Rabu (23/05).

Sementara Mulyati (32thn) mengatakan sejak awal kehamilan dirinya berkonsultasi dipuskesmas pulo armyn, pasalnya selain mudah dijangkau juga sudah cocok dengan bidan yang bertugas.

“konsultasi disini alhamdulillah tidak ribet dan ngantri, dan murah,” ujar Mulyati.

Puskesmas Pulo Armyn yang terletak dikawasan tajur memiliki fasilitas ruang pemeriksaan dewasa dan anak, ruang persalinan, ruang nifas, ruang gigi, ruang obat, ruang lab,  ruang tindakan dan juga ruang bermain anak. (boy)

Bima Arya, Hidup Sehat Tanpa Asap Rokok..

Bogor – Dampak tembakau yang mematikan bagi Indonesia, menurut The Tobacco Atlas, lebih dari 53 juta orang dewasa di Indonesia merokok setiap hari. Proporsi lelaki dewasa, anak lelaki dan anak perempuan yang merokok di Indonesia lebih tinggi dibandingkan rata-rata di negara lain yang setara. Rokok membunuh lebih dari 225.000 jiwa di Indonesia setiap hari di tahun 2016, dan merupakan 21 persen penyebab kematian pria dewasa. Angka yang lebih tinggi dibandingkan negara lain yang setara.

Penelitian memperlihatkan bahwa pria Indonesia mulai merokok di usia yang sangat muda. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan tahun 2018 memperlihatkan kenaikan prevalensi perokok remaja di Indonesia, berusia antara 10 dan 18 tahun, dari 7,2 persen di tahun 2013 menjadi 9,1 persen di tahun 2018. Merokok merupakan faktor risiko penyakit tidak menular yang menimbulkan biaya ekonomi bagi negara Indonesia sebesar US$4,5 triliun dari tahun 2012 hingga 2030, menurut The World Economic Forum.

Bersumber pada data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor, disebutkan terdapat lebih dari 446,000 jiwa menjadi perokok aktif. Hal ini, cukup menjadi dorongan Pemerintah Kota Bogor bersama dengan No Tobacco Community (NoTC) serta komunitas lari Bogor Runners untuk bersama-sama terlibat aktif dalam Lungs on The Run demi melindungi masyarakat Kota Bogor dari bahaya rokok dan produk tembakau lainnya yang gencar dipromosikan oleh industri. Sejak tahun 2017, Pemerintah Bogor terus bersinergi dengan masyarakat Kota Bogor dan organisasi kemasyarakatan seperti NoTC, untuk berkomitmen melindungi masyarakat dari bahaya rokok dan produk tembakau lainnya.

Sudah dilakukannya beberapa kampanye berbasis seni yang melibatkan angkutan umum, komunitas sepeda dan papan reklame untuk meningkatkan kesadaran dan merubah perilaku masyarakat. Kampanye-kampanye tersebut terus dilakukan dengan gencar dan dilakukan dengan slogan ‘Teu Hayang Rokok’ (tidak mau rokok) baik di dunia nyata maupun di media sosial yang terus dipromosikan dengan tagar #TeuHayangRokok.

Pada akhir 2017 NoTC merilis hasil monitoring terhadap 269 retailer modern di Kota Bogor yang hasilnya menyebutkan tingkat kepatuhan retailer dalam mematuhi larangan display produk rokok sebesar 82,9 persen. Selain itu, sebanyak 97,8 persen para pengelola retail modern juga setuju jika anak-anak sudah seharusnya tidak terpapar produk rokok sehingga dapat membentuk Kota Bogor sebagai kota ramah anak dengan persentase sebesar 95,2%.

Hasil monitoring ini, kemudian menjadi salah satu dasar untuk memperkuat Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang pada akhir 2018 akhirnya Kota Bogor memiliki Peraturan KTR yang lebih kuat dan komprehensif di mana tidak hanya rokok yang dilarang melainkan produk turunan tembakau lainnya seperti shisha dan rokok elektronik serta seluruh kegiatan promosi termasuk memajang produk di gerai ritel (display ban).

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto yang turut bergabung dalam Lari Bareng Lungs on The Run, mengatakan Regulasi mengenai pengendalian tembakau telah diperkuat dengan menambahkan peraturan mengenai larangan iklan rokok, promosi serta sponsor oleh perusahaan rokok. Tingginya konsumsi rokok terutama pada usia pelajar yang mencapai 15% dari total 11 ribu pelajar adalah jumlah yang memprihatinkan.

“Karenanya kami terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk melalui kampanye Lungs on The Run demi mewujudkan Indonesia yang lebih sehat. Khususnya warga Bogor untuk membiasakan lari untuk tubuh yang lebih sehat. Ayo gerak, ayo terus maju supaya sehat. Kita kampayekan terus hidup bersih tanpa asap rokok,” ajak Bima.

Ramadhan, Puskesmas Tetap Memberi Pelayanan Terbaik Buat Warga

Kota Bogor – Meskipun dibulan ramadhan jam kerja untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) berkurang namun tidak berdampak pada pelayanan kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) ataupun Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Kota Bogor.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Rubaeah mengatakan, Puskesmas tetap beroperasi seperti hari-hari biasa meskipun di Ramadan ini jam operasional Puskesmas berkurang 30 menit. Yakni mulai Pukul 07.30 WIB dan selesai Pukul 13.30 WIB yang pada hari biasa Pukul 14.00 WIB.

“Jam kerja Puskesmas sesuai SK Wali Kota tapi ada puskesmas 24 jam bekerja seperti biasa tidak dibatasi waktu,” kata Rubaeah, Rabu (15/05).

Menurutnya, momentum bulan puasa ini harus dijadikan semangat untuk semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang berobat ke puskesmas. Hingga turut melakukan penyuluhan kesehatan agar masyarakat tetap memperhatikan gizi selama puasa.

“H-2 setelah lebaran puskesmas tetap buka karena ada yang piket,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Puskesmas Tanah Sareal, Maria Yuliana mengatakan selama Ramadan pihaknya tetap memberikan pelayanan yang terbaik bagi warga Kota Bogor. Sekalipun jam kerja berkurang, Puskesmas Tanda selalu memberikan layanan sepenuh hati. Ia pun menghimbau agar masyarakat yang menjalankan puasa tetap menjaga kesehatannya.

“sepuluh hari puasa ini jumlah pasien ada penurunan. Namun, lonjakan pasien bisa naik di Minggu ke-2 Ramadan. Biasanya pasien mengeluhkan sakit ISPA, Hipertensi dan Febris,” tuturnya. (boy)

STOP STIGMA ODGJ ..

Kota Bogor – Pernahkan anda bertemu dengan orang gangguan jiwa? Apa yang terlintas dibenak anda? Orang yang berbahaya? kumuh, berkeliaran di pinggir jalan, telanjang, kurang akal, dan berbagai ciri negatif lain yang menggiring fikiran siapa saja yang mendengarnya untuk takut dan waspada.

Namun apakah benar orang ganguan jiwa  begitu berbahaya dan sehingga harus ditakuti? Mari kita mengenal lebih jauh apa sebenarnya penyakit gangguan jiwa tersebut.

Penyakit ganguan jiwa atau dalam istilah medisnya disebut Skizofrenia adalah gangguan seseorang dalam pikiran, perilaku, dan perasaan.

Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat dengan ODGJ akan mengalami berbagai gejala seperti ganguan fikiran halusinasi (perasaan palsu terhadap sesuatu), waham (keyakinan dan fikiran yang salah), dan delusi (fikiran yang tidak rasional dengan kenyataan).

Gejala inilah yang membuat sering ODGJ berprilaku aneh,bicara dan tertawa sendiri, sulit diajak bicara, menyendiri, emosi labil, dan terkadang  berperilaku mengancam dan anarkis.

Berbagai kegiatan FGD, pelatihan, penyuluhan dan konseling untuk petugas, keluarga dan pasien ODGJ oleh petugas Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.

Bisa sembuh enggak sih? Bisa. Asalkan dibawa berobat dan patuh minum obat untuk jangka waktu tertentu. Banyak sekali fasilitas kesehatan yang terjangkau di Kota Bogor yang bisa ODGJ dan keluarga manfaatkan seperti puskesmas dan Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi yang ada di Kota Bogor.

Namun obat saja tentu saja tidak cukup, banyak faktor lain yang mempengaruh, salah satunya lingkungan yang aman dan nyaman untuk ODGJ bisa tinggal.Penting peran dari lingkungan yang tidak menstigma ODGJ dengan berbagai ciri negatif yang telah dijelaskan sebelumnya.

Namun menciptakan lingkungan bebas stigma cukup sulit karena stigma adalah cara pandang masyarakat yang sudah melekat erat dan otomatis muncul dalam fikiran seseorang ketika ada penyebutan kata tertentu, seperti contoh kata gila atau gangguan jiwa.

Secara otomatis otak akan memunculkan gambaran berbahaya, kumuh, sering ngamuk, sulit diatur dan kalo bisa dijauhi.Stigma dari lingkungan menyulitkan penyembuhan ODGJ. Sebagai makhluk hidup ODGJ tetap memerlukan makanan, sandang dan pangan.

Segala kebutuhan tersebut  tentunya tidak gratis, perlu ada usaha yang bernilai ekonomis, sehingga ODGJ mempunyai penghasilan dan mampu memenuhi kebutuhan sehari hari. Namun stigma atau ciri negatif yang melekat pada ODGJ malah menjadi hambatan ketika mereka mulai bekerja atau berusaha.

Kunjungan ke rumah keluarga pasien penderita ODGJ oleh oleh petugas Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.

Stigma akan membuat mereka tidak bisa memiliki usaha atau sering tidak mau dipekerjakan sebagai karyawankarena takut akan menggangu dan menurunkan onset usaha. Hal ini tentu akan semakin membuat keadaan ODGJ dan keluarganya semakin sulit dan semakin terpuruk dan memperparah penyakit.

Gerakan Stop Stigma ODGJ adalah suatu inovasi yang digagas oleh Puskesmas Mekar Wangi Kota Bogor, dalam usaha mengurangi stigma terhadap ODGJ di masyarakat. Fokus kegiatan adalah penguatan pada kepercayaan diri dari ODGJ dan keluarga juga diiringi dengan edukasi berkelanjutan ke masyarakat untuk perubahan pola fikir agar bisa menerima bahwasakit jiwa sebagai sakit yang bisa disembuhkan, bukan kutukan dan aib, perlu dirangkul serta didukung.

Peningkatan kepercayaan diri dilakukan dengan kegiatan konseling yang rutin setiap hari kamis di Puskesmas Mekarwangi, baik ke ODGJ dan keluarganya. Konseling berisi motivasi-motivasi kepada pasien agar bersih dan rapi sehingga mengubah persepsi masyarakat tentang ODGJ yang kumuh dan bau. Keluarga juga diajak untuk mengubah pola fikir tentang sembuh yang harus seperti sediakala sebelum sakit, ke pola fikir sembuh bila ODGJ telah mampu mandiri dan terkontrol.

Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor menjalin kerja sama dengan beberapa instansi dalam penanganan ODGJ di Kota Bogor, Jawa Barat.

Untuk mendukung kegiatan Stop Stigma ODGJ ini, puskesmas juga berkerjasama dengan berbagai pihak lintas sektor yang terkait baik itu Dinas Kesehatan Kota Bogor, Dinas Sosial Kota Bogor, Kelurahan/Kecamatandan pihak keamanan setempat.

Berbagai kegiatan seperti bantuan modal dari Dinas Sosial Kota Bogor telah memberikan efek yang positif terhadap ODGJ sehingga bisa berfungsi mandiri dan bernilai ekonomis.Hampir sebahagian ODGJ di wilayah kerja Puskesmas Mekarwangi mempunyai usaha mandiri dan menghasilkan secara finansial. Hal ini juga tidak terlepas dari kepedulian kelurga dan masyarakat setempat terhadap ODGJ, untuk tidak takut dan peduli terhadap ODGJ.

Dengan kegiatan ini besar harapan akan terbentuk suatu masyarakat Kota Bogor yang ramah terhadapsesama, bisa menerima kelebihan dan kekurangan para disabilitas terutama disabilitas sehingga terwujud masyarakat sehat jiwa dan raganya.

Anda juga dapat mengakses film dokumenter kegiatan “Stop Stigma Puskesmas Mekarwangi” di Youtube dengan kata kunci pencaharian STOP STIGMA ODGJ.

Kegiatan ODGJ ADIRA (Aku Mandiri Dan Berkarya) yang melibatkan pasien ODGJ.

Kota Bogor pasti bisa… Kota Bogor berlari….

Oleh: Aya Afya,S.Kep.Ns,MSc.,Fungsional perawat Puskesmas Mekarwangi, Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Angka Perokok Meningkat, Kota Dan Kabupaten Di Jabar Belajar Perda KTR Di Kota Bogor

Kota Bogor – Untuk menekan angka perokok yang kian meningkat,  sebanyak 20 perwakilan kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Banten mempelajari aturan-aturan mengenai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang sudah diterapkan di Kota Bogor, Rabu (08/5/2019).

“Tahun 2018 jumlah perokok pada remaja naik 9,1 persen. Kami berharap tidak ada peningkatan seperti itu kembali. Berharap dari bapak ibu bisa turut menurunkan,” kata Direktur Bidang Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Cut Putri Arianie pada kegiatan pelatihan penyusunan regulasi KTR di Kota Bogor.

Sementara Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto di tempat yang sama mengatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor siap membantu kota dan kabupaten yang mempelajari aturan KTR di Kota Bogor.

“Kita berbagi pengalaman, dan mendorong agar kota-kota lain memiliki kebijakan yang tegas terhadap tembakau. Beberapa tahun terakhir ini Kota Bogor terus menyempurnakan Perda KTR, dengan revisi-revisi,” ujar Bima.

Bima menambahkan, kedepan akan banyak inovasi mengenai sosialisasi Perda KTR, salah satunya program berupa penghargaan bagi rumah tanpa tembakau. Pemkot Bogor akan mengidentifikask rumah-rumah yang bebas dari asap rokok, kemudian memberikannya penghargaan.

“Kita akan beri identifikasi, kita akan tempelkan semacam plakat. Untuk memotivasi semua orang agar bersih dari tembakau,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Rubaeah mengaku senang karena Kota Bogor menjadi contoh bagi kota dan kabupaten lain dalam hal KTR.

“Kita menjadi contoh implementasi perda KTR seperti apa. Mudah-mudahan di kota kabupaten lain bisa terbentuk perda ini,” katanya.

Menurut Rubaeh, Pemkot Bogor bersama DPRD baru saja merevisi Perda KTR, yaitu memasukkan zat adiktif jenis lain yang belum diatur Perda KTR, seperti rokok herbal, rokok elektrik, sisha, dan vape.

“Karena kan masuk dalam zat adiktif juga. Sosialisasi dulu tidak langsung tindakan,” pungkas Rubaeah. (boy)

ASINAN BOGOR

ASINAN BOGOR
“Asah Indungna Ambeh Botolna Digolerkeun”

Oleh :
Drg. Astrid Dewi Prabaningtyas
Dokter Gigi Fungsional Puskesmas Tegal Gundil Kota Bogor

Kota Bogor – Early Childhood Caries (ECC) terdiri dari kata early childhood yang berarti termasuk anak-anak sampai lima tahun dan kata caries yang berarti proses destruksi yang menyebabkan kavitas pada gigi (Berg dan Slayton, 2010). ECC adalah istilah baru yang diadopsi pada tahun 1994 untuk menujukkan karies gigi pada bayi dan anak pra sekolah (Almushayt et al., 2010). Sebelumnya dikenal dengan nursing bottle caries, baby bottle tooth decay dan night bottle caries (American Academy of Pediatric Dentistry, 2016).
Menurut data survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angka kejadian karies gigi pada anak sebesar 60% -90% (Sinaga, 2013). Di Indonesia, prevalensi karies gigi menurut kelompok usianya, usia 3 tahun 60%, usia 4 tahun 85% dan usia 5 tahun 86,4%. Berdasarkan hasil penjaringan kesehatan gigi Puskesmas Tegal Gundil di wilayah Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor kejadian karies pada anak usia pra sekolah tahun 2015 53,1%; 2016 56,6% dan 2018 meningkat menjadi 63,2%.

Indikator keberhasilan Puskesmas dalam memberi layanan diatur dalam instrumen Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP). Instrumen PKP Puskesmas Tegal Gundil tahun 2018 yang belum tercapai adalah cakupan penanganan siswa TK yang membutuhkan perawatan kesehatan gigi dengan angka 56,5% dan cakupan penanganan siswa SD yang membutuhkan perawatan kesehatan gigi dengan angka 27,1%. Hal ini terjadi karena angka kejadian ECC terus meningkat dari tahun ke tahun dan instrumen PKP hanya mengatur pembinaan kesehatan gigi orang tua pada Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM) dan tidak pada Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS).

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis mengembangkan kegiatan pembinaan/intervensi kesehatan gigi langsung pada orang tua, khususnya ibu. Diharapkan dengan dilakukan pembinaan perilaku kesehatan gigi ibu dapat berubah menjadi lebih baik, angka kejadian ECC dapat ditekan dan anak-anak yang membutuhkan perawatan kesehatan gigi semakin berkurang.
Untuk memudahkan penyampaian informasi digagaslah tema lokal, agar lebih mudah diingat dan diserap informasinya. Maka lahirlah ASINAN BOGOR (Asah Indungna Ambeh Botolna Digolerkeun) di Puskesmas Tegal Gundil Kecamatan Bogor Utara. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Asah adalah melatih atau mengajarkan, Indungna adalah ibunya (ibu dari anak pra sekolah), Ambeh adalah agar, Botolna adalah botol susu/dot, Digolerkeun adalah diletakkan atau tidak digunakan. Maksudnya mengajarkan ibu agar tidak menggunakan botol sebagai media minum susu atau minuman manis lainnya. Pesan dari Asinan Bogor adalah:
Stop botol sebagai media minum susu atau minuman manis lainnya, tidak diberikan sebagai pengantar tidur dan diantara waktu tidur.

Sikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
Periksa ke dokter gigi enam bulan sekali.
Pesan ini yang akan selalu disampaikan pada berbagai macam kegiatan Asinan Bogor.

Apa saja kegiatan Asinan Bogor yang dikembangkan di Puskesmas Tegal Gundil ?
Pertemuan Orang tua Murid dan Guru (POMG)
Setelah kegiatan penjaringan petugas (dokter gigi) melaporkan hasil kegiatan kepada Kepala Sekolah atau guru UKS. Dilakukan diskusi tentang perlunya melakukan pembinaan/intervensi kesehatan gigi langsung pada orang tua/ibu. Disepakati untuk menjadwalkan dokter gigi masuk ke dalam Pertemuan Orang tua Murid dan Guru (POMG). Kegiatan bertempat di Aula sekolah/ruang kelas.

Untuk mengevaluasi pemahaman dan kemampuan menyerap orang tua terhadap materi yang diberikan dibuat alat bantu, dalam bentuk kuesioner. Disebarkan sebelum dan sesudah intervensi pada orang tua murid. Sebagai contoh setelah dilakukan pembinaan kesehatan gigi/intervensi pada 71 orang tua murid TK Kuncup Harapan, maka dilakukan evaluasi enam bulan kemudian dengan menggunakan alat bantu, yaitu kuesioner dan didapat hasil sebagai berikut:

Tabel Hasil Kegiatan Asinan Bogor
NO
MATERI
SEBELUM INTERVENSI
SETELAH INTERVENSI

1 . Pemberian susu formula dengan botol sebagai pengantar tidur dan diantara waktu tidur
80%
50%

2. Waktu sikat gigi anak pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur
10%
23%

3. Menemani anak saat menyikat gigi
50%
90%

4. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan, periksa ke dokter gigi enam bulan sekali
30%
40%

5. Pengetahuan jumlah gigi susu dan waktu tumbuhnya
50%
90%

6. Pengetahuan jumlah gigi permanen dan waktu tumbuhnya
10%
70%

Kegiatan strategis lain
Agar dapat benar-benar menekan angka karies, bahkan memutus rantai karies kegiatan intervensi masuk ke fase sebelum anak dilahirkan, yaitu: Kelas Calon Pengantin (KUA) Kelas Ibu Hamil (Posyandu) dan kegiatan strategis lain, seperti: Lokmin Kader Posyandu (Kelurahan), Minggon (Kecamatan), Siaran (Stasiun radio) dan lain-lain. Sasaran kegiatan menjadi beragam, bukan hanya orang tua murid/ibu namun meliputi calon orang tua (calon pengantin, ibu hamil), kader posyandu, Camat, Lurah dan masyarakat umum.
Kegiatan Asinan Bogor meliputi pemberian penyuluhan tatap muka yang dilakukan oleh petugas (dokter gigi) dengan tenik visualisasi menggunakan media power point agar mudah dipahami, dilanjutkan diskusi dua arah (tanya jawab). Media pendukung informasi, yaitu selebaran (leaflet) dan lembar tempel (stiker), diberikan kepada peserta penyuluhan/sasaran agar informasi yang didapat saat penyuluhan bisa dibaca kembali dirumah, dipahami, diterapkan dan ditularkan ke lingkungan sekitar.

Selain penyuluhan tatap muka, dilakukan juga penyampaian informasi melalui media online (WA group RW, Facebook). Kegiatan dilakukan agar pesan lebih mudah disebarkan dan lebih banyak lagi yang menerima informasi dan diharapkan akan mengadopsi perilaku kesehatan gigi yang benar, khususnya dalam pemilihan media untuk minum susu dan angka kejadian ECC dapat ditekan.

Pendistribusian stiker Asinan Bogor juga dilakukan pada kegiatan rutin dalam dan luar gedung, antara lain saat Kunjungan pertama (K1) ibu hamil ke Unit Pelayanan Gigi dan Posyandu. Setelah diberi penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gigi lalu petugas (dokter gigi/perawat gigi) menempelkan stiker Asinan Bogor pada buku pink Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kegiatan ini dilakukan agar pesan dari Asinan Bogor terus diingat oleh ibu hamil (calon orang tua) dan orang dewasa di sekeliling anak usia dini.

Asinan Bogor adalah kegiatan intervensi kesehatan gigi pada orang tua, khususnya ibu, calon orang tua (calon pengantin, ibu hamil) agar tidak menggunakan botol sebagai media minum susu atau minuman manis lainnya. Tujuannya untuk menekan angka prevalensi karies yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sasaran utama kegiatan ini adalah ibu, dengan asumsi ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anaknya. Sehingga apabila dilakukan intervensi berupa pendidikan kesehatan gigi pada ibu, diharapkan perilaku kesehatan gigi vang benar akan diteruskan kepada anaknya. Untuk keberhasilan kegiatan ini juga memberdayakan masyarakat, seperti kader dan membutuhkan dukungan dari lintas sektor seperti camat, lurah, kua, sekolah dan toma.
Kota Bogor pasti bisa….Bogor Berlari !!!

FOTO KEGIATAN

Pertemuan Orang tua Murid dan GURU Kelas Ibu Hamil

Pembinaan Calon Pengantin Lokmin Kader Posyandu

Rapat Minggon Kecamatan Dialog Interaktif di Radio

Oleh :
Drg. Astrid Dewi Prabaningtyas
Dokter Gigi Fungsional Puskesmas Tegal Gundil Kota Bogor

****************

Jadwal Kegiatan Dinas Kesehatan Hari Ini..

Assalamualaikum…bersama ini disampaikan jadwal kegiatan Dinkes dan yang harus dihadiri Dinkes, hari Selasa, 7 Mei 2019 yang bisa direkap Seksi Infokes-Humas sbb. :

1. 08.00 (Tgl.7 – 14 Mei 2019)
Mengikuti Tadarus Al’Quran Darma Wanita Persatuan (DWP) Kota Bogor, tema Keutamaan Tadarus Al’Quran dan Tilawah Jati Diri di Bulan Ramadhan, tempat Mesjid At Taqwa Balaikota Bogor.
– Sekdis
mengkordinasikan

2. 08.00
Supervisi Posbindu PTM di Wilayah Kerja Pusk.Merdeka, Pondok Rumput, Warung Jambu, Kedung Badak, Bogor Tengah dan Belong, tempat di Posbindu PTM terlampir dalam surat.
– Pelaksana : Tim
Seksi PPTM, Keswa
dan Kesorga

3. 08.30
Rapat Koordinasi dengan Jajaran Direksi RSUD Kota Bogor, tempat Ruang Rapar RSUD Kota Bogor.
– Kadis

4. 09.00
Mengikuti Undangan Rapat Pembahasan Usulan Standar Biaya Tahun 2020, tempat Ruang Rapat Bag. Adm. Pembangunan Lt-2 Setda Kota Bogor.
– Sekdis/menugaskan

5. 08.00
Monitoring sekaligus Pendampingan Teknis Implementasi Aplikasi-SIR terintegrasi, sasaran RS Hermina, RS Bunda Suryatni, RS Mulia dan RS Azra, tempat di RS masing2.
– Pelaksana : Seksi
Infokes-Humas
– Operator CC e-SIR
(2 Tim)

6. 10.00
Mengikuti Brieffing Staf di Lingkungan Pemkot Bogor, tempat Paseban Sri Bima Balaikota Bogor.
– Kadis

7. 10.00
Pengumpulan Data Rifakes Tahun 2019 di Pusk. Bogor Selatan, Bogor Utara, Sempur, Sundang Barang dan Kedung Badak, tempat di Pusk.masing2.
– Koordinator/PJO
dan PJAL Seksi
Infokes-Humas
– Enumerator
Rifaskes Kota Bogor

8. 10.00
Monitoring dan Pendampingan Implementasi aplikasi e-Profil dan Website Puskesmas di Pusk. Mekarwangi dan Kayumanis.
– Pelaksana : Seksi
Infokes-Humas
– Diskominfo Kota
Bogor

9. 10.00
Bimbingan Teknis Program HIV/AIDS di Pusk. Sindang Barang Wil.Kec.Bogor Barat Kota Bogor.
– Pelaksana : Tim
Seksi P3MS

10. 10.00
Penerimaan Studi Tiru tentang Program PIS-PlK dari Dinkes Kab.Karang Asem Prov.Bali, tempat Ruang Data Dinkes Kota Bogor.
– Kabid Yankes
/menugaskan

11. 10.00
Penerimaan Studi Banding tentang Pengelolaan BPJS Kesehatan dari Wakil Ketua DPRD Kab.Bogor Prov Jabar, tempat Ruang Bidang Yankes.
– Kabid Yankes

12. 13.00
Pendampingan Reakreditasi Semua Pokja di Pusk.Pancasan.
– Tim Pendamping
Akreditasi
– Seksi Bindal dan
Mutu Fasyankes

13. 13.00
Mengikuti Undangan Rapat Koordinasi Kota Sehat Kota Bogor Tahun 2019, tempat Paseban Sri Bima Balaikota Bogor.
– Kabid Kesmas
/menugaskan

14. 14.00
Mengikuti Undangan FGD Peningkatan Pelaksanaan UKM dan UKP di Puskesmas, pelaksana Kemenkes RI, tempat Ruang Rapat ADINKES ITS Tower Lt-9 Unit 15 Jl.Raya Pasar Minggu No 18 Jakarta Selatan.
– Kabid Yankes
/menugaskan

15. 14.30 -17.00
Mengikuti Undangan Penandatanganan Naskah Kerjasama antara Pemkot Bogor dengan Instansi/Lembaga Pendidikan,dll, tempat Universitas Pakuan Kota Bogor (14.30), Taman Kaulinan (15.30) dan di Vihara Pulo Geulis (17.00).
– Kadis

16. Lainnya
Seksi, Subag, Puskesmas dan Labkesda melaksanakan kegiatan sesuai tupoksi masing-masing.

SELAMAT BERAKTIFITAS
Terima Kasih🙏

Dinkes Kota Bogor, Sebelum Masuk SD Anak Wajib Diimunisasi

Kota Bogor – Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular dan Surveilance (P3MS) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sari Chandrawati mengatakan, target imunisasi anak di Kota Bogor tercapai ditahun 2018.

Menurut Sari meski target imunisasi tercapai, ia menginginkan agar seluruh anak-anak bisa di imunisasi.

“Jika perlu dibuatkan Peraturan Daerah (Perda) sebelum anak didaftarkan masuk Sekolah Dasar (SD), harus punya sertifikat imunisasi dulu,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, seorang anak yang tidak di imunisasi akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah ketimbang anak yang sudah di imunisasi.

“Anak yang tidak di imunisasi  lebih rentan terkena penyakit,” ungkapnya.

Anak yang tidak di imunisasi pun bila terkena penyakit menular, dapat menularkan penyakitnya ke orang-orang di sekitarnya. Makanya penting sekali imunisasi itu.

“Tahun 2017 dan 2018, Dinkes Kota Bogor memiliki target imunisasi 90 persen,” imbuhnya.

Namun dalam realisasinya, pada tahun 2017, Dinkes Kota Bogor memiliki target sasaran 18.490 anak, dan tercapai 94,2 persen.

Sementara ditahun 2018, dari target 18.477 anak, tercapai 94,8 persen.

“Meski target terpenuhi, tapi masih banyak orangtua yang enggan mengimunisasikan anaknya. Padahal ini penting demi kesehatan anak ke depannya,” pungkasnya. (boy)

Sukseskan Pemilu, Dinkes Siapkan Tim Medis Dan Ambulans

Kota Bogor – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor menyiapkan tim medis dan ambulans di setiap kecamatan. Tujuannya adalah untuk mempermudah mengecek kesehatan penyelenggara Pemilu yang sedang bertugas.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Rubeah menjelaskan, sebagian besar panitia pemilu yang sakit mengalami kelelehan. Pekerjaan yang begitu diporsir tanpa jeda istirahat menyebabkan sakit.

“Jam kerjanya di atas normal, sedangkan tidak ada asupan energi yang cukup. Hal itu menyebabkan hipertensi, hingga tifus,” paparnya.

Rubaeah juga mencermati, ada kemungkinan riyawat penyakit para penyelenggara pemilu. Sehingga dengan mudah para panitia terpapar sakit ketika dalam kondisi lemah.

“Seharusnya ketika rekrutmen tenaga kerja juga harus disertai riwayat kesehatan. Agar penyelenggraaan pemilu dikerjakan orang-orang siap secara kesehatan,” ucapnya.(boy)