Ayo ke Posbindu PTM di Kota Bogor….

Kota Bogor – Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang bukan disebabkan oleh proses infeksi (tidak infeksius) sehingga tidak menularkan kepada orang lain. Penyakit tidak menular akhir-akhir ini menjadi trend dan meningkat terus jumlah kasusnya karena berbagai faktor yaitu diantaranya pengaruh transisi epidemiologi, transisi lingkungan, transisi demografis, ekonomi, sosial budaya (lifestyle, modernisasi), dll.

Selain itu penyakit tidak menular menjadi masalah kesehatan masyarakat karena peningkatan PTM berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa, pengobatan PTM seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar serta beberapa jenis PTM adalah penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya dengan salah satu dampak PTM adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen.

Beberapa penyakit tidak menular yang saat ini sedang mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Kesehatan untuk dikendalikan dan dilakukan pencegahan yaitu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (seperti penyakit jantung koroner, hipertensi,stroke), diabetes mellitus, kanker, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) dan ganguan akibat kecelakaan dan kekerasan.

Ada faktor resiko yang memicu terjadinya penyakit tidak menular. Faktor risiko adalah suatu kondisi yang secara potensial berbahaya dan dapat memicu terjadinya PTM pada seseorang atau kelompok tertentu. Berikut ini adalah beberapa faktor risiko penyakit tidak menular yang harus diwaspadai oleh masyarakat Kota Bogor supaya terhindar dari penyakit tidak menular yaitu :

• Konsumsi garam berlebih
• Konsumsi lemak berlebih
• Kurang konsumsi sayur dan buah
• Kurang aktifitas fisik
• Obesitas
• Komsumsi alkohol
• Konsumsi rokok
• Dll.

Posbindu PTM (Pos Pembinan Terpadu Penyakit Tidak Menular) merupakan kegiatan pengendalian faktor risiko PTM melalui pemberdayaan masyarakat. Sasaran program ini ditujukan kepada seluruh masyarakat sehat dan berisiko yang berusia mulai dari 5 tahun ke atas. Disebut Posbindu PTM karena kegiatan pengendalian faktor risiko PTM terintegrasi dengan Posbindu yang sudah lebih dulu ada.

Kegiatan PTM yang terintegrasi Posbindu tersebut melibatkan kader-kader kesehatan yang sudah dilatih sebagai pelaksana dengan pendampingan tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat. Saat ini Kota Bogor sudah memiliki 431 Posbindu PTM yang tersebar di 68 Kelurahan dari 503 Posbindu yang ada di Kota Bogor. Dan ke depan seluruh Posbindu akan dikembangkan menjadi Posbindu PTM.

Posbindu PTM dapat diselenggarakan sebulan sekali tetapi bila diperlukan dapat lebih dari 1 kali dalam sebulan. Hari dan waktu yang dipilih sesuai dengan kesepakatan serta dapat saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Posbindu PTM diperlukan untuk mengendalikan faktor risiko PTM yang terdapat pada setiap individu agar tidak berkembang menjadi penyakit tidak menular.

Apa saja kegiatan Posbindu PTM?

Aktifitas Posbindu PTM meliputi identifikasi faktor risiko PTM, edukasi konseling faktor risiko PTM, pencatatan dan pemantauan termasuk rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan menggunakan sistem 5 meja. Pelayanan sistem 5 meja terdiri dari meja 1 untuk pelayanan registrasi dan administrasi, meja 2 untuk wawancara, meja 3 untuk pengukuran antropometri (BB,TB,LP, analisa lemak tubuh), meja 4 untuk pengukuran faktor risiko PTM biologis (pengukuran tekanan darah, gula darah, kolesterol, arus puncak espirasi, dll), dan meja 5 untuk edukasi dan konseling.

Kapan dirujuk dari Posbindu PTM ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar?

Apabila pada kunjungan berikutnya (setelah 3 bulan) kondisi faktor risiko yang dimiliki tidak mengalami perubahan (tetap pada kondisi buruk), atau sesuai dengan kriteria rujukan maka untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas atau klinik swasta sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang bersangkutan. Meski telah mendapatkan pengobatan yang diperlukan, para penyandang faktor risiko PTM yang telah dirujuk tetap dianjurkan untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM secara rutin di Posbindu PTM.

Berikut ini jangka waktu pemantauan faktor risiko PTM yang harus diketahui oleh seluruh masyarakat Kota Bogor :

Faktor Risiko Orang Sehat Faktor Risiko Penyandang PTM
Glukosa darah puasa 3 tahun sekali 1 tahun sekali  1 bulan sekali
Glukosa darah 2 jam 3 tahun sekali 1 tahun sekali  1 bulan sekali
Glukosa darah sewaktu 3 tahun sekali 1 tahun sekali  1 bulan sekali
Kolesterol darah total 5 tahun sekali 6 bulan sekali 3 bulan sekali
Trigliserida 5 tahun sekali 6 bulan sekali 3 bulan sekali
Tekanan darah 3 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali
Indeks Massa tubuh (IMT) 3 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali
Lingkar perut 3 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali
Arus Puncak Ekspirasi 1 tahun sekali 3 bulan sekali 1 bulan sekali

“Dengan POSBINDU PTM mari kita cegah Penyakit Tidak Menular”  

Sumber: Kementrian Kesehatan RI Berbagai sumber kesehatan lain. (ADV).

Oleh: Seksi Informasi Kesehatan dan Humas Dinas Kesehatan Kota Bogor.

BOGOR ANJANG SEHAT (BAS) “KETIKA PETUGAS KESEHATAN DATANG BERTAMU”

Kota Bogor – Ada dua hal yang perlu ditekankan dalam perbaikan dan peningkatan pelayanan kesehatan, yaitu mutu pelayanan dan akses. Mutu dapat ditingkatkan dengan komitmen, integrasi dan dukungan, sedangkan akses perlu beberapa tindakan yang konkret agar masyarakat dapat menjangkau fasilitas kesehatan serta pelayanan kesehatannya.

Sampai saat ini, keterjangkauan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan boleh dibilang gampang gampang sulit. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap keterjangkauan tersebut seperti letak fasilitas pelayanan kesehatan, transportasi yang digunakan untuk mencapai fasilitas tersebut, hingga kesadaran dan inisiatif masyarakat untuk mau datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Kota Bogor sebenarnya adalah kota yang memiliki akses atau keterjangkauan yang cukup mudah. Sarana transportasi tersedia, hingga semua fasilitas pelayanan kesehatannya dapat dijangkau. Tetapi inisiatif masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan sering belum maksimal. Setelah banyaknya promosi kesehatan yang dilakukan agar masyarakat sadar dan mau ke fasilitas pelayanan kesehatan gencar dilakukan, maka tindakan berikutnya adalah langsung mendekati masyarakat dalam pelayanan kesehatan.

Dengan berjalannya berbagai program kesehatan, ternyata mampu mengungkapkan data bahwa lebih dari 30% masyarakat Kota Bogor masih dalam kondisi rawan atau kondisi dengan indeks tidak sehat. Program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga (PIS PK) telah memberikan sumbangsih bagaimana kondisi masyarakat di Kota Bogor. Program-program kesehatan yang lain, selain memperlihatkan data, juga memberikan peluang untuk dibuat berbagai inovasi agar kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat dapat terpenuhi. Dengan semakin meningkatnya kasus penyakit kronis dan penyakit akibat perilaku yang kurang mempehatikan kesehatan, maka dibutuhkan penanganan yang cepat, dan terintegrasi.

Untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap tenaga kesehatan khususnya dokter di wilayah Kota Bogor, disepakati untuk melaksanakan suatu kegiatan Kunjungan Rumah, yang melibatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan di Puskesmas seluruh Kota Bogor. Kesepakatan ini berdasarkan hasil pertemuan penguatan kegiatan puskesmas. Kegiatan ini dinamakan dengan Bogor Anjang Sehat (BAS).

Konsep kegiatan BAS adalah melaksanakan kunjungan ke rumah masyarakat, melakukan pendekatan secara keluarga dan individu, penemuan kasus hingga intervensinya. Lingkup Kegiatan Bogor Anjang Sehat merupakan kunjungan rumah kepada keluarga (home visite) yang dilaksanakan oleh Tim yang terdiri atas tenaga medis (dokter dan dokter gigi), tenaga penunjang medis (perawat dan bidan) serta tenaga kesehatan lainnya (nutrisionist, sanitarian, farmacist dan tenaga kesehatan lainnya), dalam bentuk FGD untuk pelayanan bagi masalah kesehatan, baik penyakit akut, maupun penyakit Kronis.

Tim Dinas Kesehatan Kota Bogor saat melakukan kunjungan ke salah satu rumah warga di Kota Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan BAS dilaksanakan oleh Tim dengan kebutuhan sarana dan prasarana sebagai berikut :

1. Sarana Transportasi
Baik dengan jalan kaki atau menggunakan angkutan khusus berupa kendaraan roda dua untuk menjangkau daerah yang sulit dijangkau, kendaraan roda dua dilengkapi dengan peralatan medis dan kesehatan sesuai kebutuhan dan kendaraan diberi tanda pengenal berupa stiker atau tulisan kegiatan Bogor Anjang Sehat.

2. Sarana Teknis Lapangan
Berupa perlengkapan teknis lapangan yang terdiri atas perlengkapan identitas seperti rompi, topi dan payung serta perlengkapan medis dan kesehatan yang digunakan untuk kegiatan Bogor Anjang Sehat serta ditunjang oleh alat tulis kantor sebagai pelengkap.

Sasaran Bogor Anjang Sehat adalah keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan, baik pada kasus yang dini maupun dalam rangka follow up dan diharapkan pada kunjungan selanjutnya menjadi kunjungan sehat untuk promotiv dan preventif terhadap munculnya gangguan kesehatan/penyakit. Data keluarga yang memiliki masalah kesehatan, didapatkan dari hasil Pendataan program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK), berdasarkan pada 12 indikator keluarga sehat.

Tim Bogor Anjang Sehat (BAS) terdiri atas Tim BAS Dinas Kesehatan Kota Bogor, sebagai pembina dan pendamping, terdiri atas Penanggungjawab Kegiatan Kepala Dinas dan dibantu oleh Sekretaris Dinas dan Kepala Bidang serta Kepala Sub Bagian dan Kepala Seksi. Tim BAS Puskesmas terdiri atas tenaga medis (dokter dan dokter gigi), tenaga penunjang medis (perawat dan bidan) serta tenaga kesehatan lainnya (nutrisionist, sanitarian, farmacist dan tenaga kesehatan lainnya) di 25 Puskesmas se Kota Bogor.

Tim Dinas Kesehatan Kota Bogor saat melakukan kunjungan ke salah satu rumah warga di Kota Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan Kunjungan Rumah Bogor Anjang Sehat (BAS) adalah sebagai berikut :

1. Penemuan kasus baru (deteksi dini).
2. Penemuan  suspek/kasus kontak serumah.
3. Pemantauan keteraturan berobat sesuai program pengobatan.
4. Pelayanan kesehatan dasar langsung (direct care) maupun tidak langsung (indirect care).
5. Upaya pengobatan tindak lanjut (follow up).
6. Upaya pemulihan pasca pengobatan/perawatan.
7. Pemantauan status kesehatan beresiko.
8. Pemantauan status gizi buruk.
9. Penyuluhan/Pendidikan kesehatan pada individu dan keluarganya.
10. Dokumentasi Kegiatan: laporan kegiatan sesuai format kasus + foto kegiatan.

Adapun keluaran yang diharapkan adalah :

1. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan perilaku individu, keluarga tentang  kesehatan.
2. Meningkatnya penemuan dini kasus baru.
3. Meningkatnya  pelayanan kesehatan .
4. Meningkatnya penanganan kasus yang memerlukan tindak lanjut pelayanan kesehatan di rumah.
5. Meningkatnya akses keluarga miskin mendapat pelayanan kesehatan.

Bogor Anjang Sehat (BAS) merupakan salah satu inovasi Bidang Kesehatan Kota Bogor dalam menurunkan angka kesakitan dan angka kematian baik bayi, balita, ibu hamil maupun kematian karena penyakit lainnya sehingga dampaknya dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya masyarakat Kota Bogor.

Kota Bogor bisa…..  (Adv).

Oleh : dr. Armein Sjuhary Rowi,MKM KepalaSeksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Sejarah Hari Kesehatan Nasional

Kota Bogor – Sejarah lahirnya Hari Kesehatan Nasional yang diperingati setiap tanggal 12 November berawal dari upaya pemberantasan penyakit Malaria di Indonesia. Di era 50-an, penyakit Malaria mewabah di Indonesia. Penyakit ini menjangkiti hampir semua masyarakat di seluruh negeri. Terdapat ratusan ribu orang yang tewas akibat wabah Malaria tersebut. Akibat banyaknya korban yang jatuh, pemerintah kemudian segera mengambil tindakan dengan melakukan beragam upaya untuk membasmi Malaria.

Upaya pembasmian penyakit Malaria dimulai tepatnya pada tahun 1959 dengan dibentuknya Dinas Pembasmian Malaria oleh pemerintah. Empat tahun kemudian, yaitu pada tahun 1963, namanya kemudian diganti menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria yang disingkat menjadi KOPEM. Upaya pembasmian ini dilakukan oleh pemerintah dengan dibantu organisasi kesehatan dunia WHO dan USAID.

Dengan dilakukan upaya pemberantasan Malaria tersebut, pemerintah berharap Malaria bisa benar-benar diberantas. Bentuk upaya pemberantasan penyakit Malaria sendiri dilakukan dengan menggunakan obat jenis DDT. Penyemprotan obat ini dilakukan secara massal ke rumah-rumah penduduk yang ada di pulau Jawa, Bali dan Lampung.

Presiden Soekarno yang menjabat sebagai Presiden RI kala itu, melakukan penyemprotan pertama secara simbolis pada tanggal 12 November 1959, bertempat di desa Kalasan, Yogyakarta. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN) untuk diperingati setiap tahunnya.

Tema perayaan HKN setiap tahunnya berbeda-beda. Namun, tentu saja dengan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia sekaligus pemahaman mereka akan pentingnya hidup sehat. Biasanya, akan ada beragam kegiatan yang dilakukan guna meramaikan acara yang diawali oleh pembukaan dari Menteri Kesehatan ini.

Terlepas dari bentuk acara dan jenis kegiatan yang ada di dalamnya, perayaan HKN sendiri tidak akan berjalan dengan mulus tanpa dukungan semua pihak. Diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dengan kepala daerah, dunia usaha, sampai dengan organisasi kemasyarakatan agar persiapan acara bisa dilakukan dengan baik. Dukungan masyarakat juga diperlukan dengan berpartisipasi langsung selama acara, baik dengan mengikuti lomba atau hanya sekadar hadir untuk mendengarkan talk show tentang kesehatan yang biasanya diberikan.

Menyongsong perayaan Hari Kesehatan Nasional yang ke-54 pada tanggal 12 November 2018 mendatang, marilah kita mengkaji kembali apa yang sudah berhasil dicapai dengan adanya perayaan tersebut. Saat ini masyarakat sudah semakin mudah untuk mengakses fasilitas kesehatan. Terbukti dengan adanya peningkatan pelayanan kesehatan di berbagai daerah, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.

Selain peningkatan pelayanan kesehatan, infrastruktur fasilitas kesehatan pun sudah semakin memadai, tersedia jaminan kesehatan nasional (JKN) dengan sistem gotong royong. Untuk daerah-daerah terpencil, bahkan pemerintah sudah menyediakan flying doctor dan rumah sakit bergerak, sehingga pelayanan kesehatan juga bisa menjangkau daerah-daerah tersebut.

Momentum Hari Kesehatan Nasional ke-54 Tahun 2018 menjadi pengingat publik bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya akan terwujud, apabila semua komponen bangsa; masyarakat, organisasi kemasyarakatan, swasta berperan serta dalam upaya kesehatan, dengan lebih memprioritaskan promotif-preventif dan semakin menggalakkan serta melembagakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), tanpa mengabaikan kuratif-rehabilitatif.

Pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, akademisi dan praktisi turut ambil bagian dalam peringatan HKN untuk mendukung pembangunan kesehatan Masyarakat semakin mengerti arti penting perilaku dan lingkungan sehat, serta melakukan gerakan hidup sehat, baik di keluarga, tempat kerja, tempat-tempat umum dan fasilitas lainnya.

Dengan mengacu pada Buku Panduan HKN Ke-54 tahun 2018 yang dikeluarkan oleh Kementria Kesehatan RI, bahwa tema HKN Ke-54 Tahun 2018 adalah “Aku Cinta Sehat”, dengan sub tema “Ayo Hidup Sehat…Mulai Dari Kita” dan pesan-pesan pendukung sebagai berikut :

  • SALAM SEHAT, SEHAT INDONESIA
  • Keluarga Sehat, Indonesia Kuat
  • Wujudkan Indonesia Sehat dengan promotif dan preventif
  • Sehatkan diri dan sekitar, mulai dari kita
  • INTEGRITAS: “Sehat Tanpa Korupsi”. Jaga Diri, Jaga Teman, Jaga Kementerian Kesehatan
  • Etos Kerja : “Sehat Melayani.” Cepat (No Delay), Tepat (No Error), Bersahabat (No Complaint)
  • Gotong royong:“Indonesia Sehat”. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat
  • Budaya Kerja Harian :
    1T : Minimal 1 pekerjaan tuntas setiap hari
    2K : Minimal 2 kebaikan setiap hari
    3S : Senyum, Sapa, Salam
    4M : Hadir 4 menit sebelum kegiatan dimulai
    5R : Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin

Peringatan HKN Ke-54 Tahun 2018 Tingkat Kota Bogor dimeriahkan dengan berbagai kegiatan dan lomba yang melibatkan berbagai institusi kesehatan yang ada di Kota Bogor mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Apotik, Laboratorium, Akademisi, SMK Kesehatan,dll.

Berikut rangkaian Kegiatan dan Lomba dalam memperingati HKN Ke-54 Tingkat Kota Bogor Tahun 2018, diantaranya :

  • Lomba-lomba Olah Raga
    – Lomba Bola Volley (Pa/Pi, Tanggal 8 – 10 Oktober 2018, tempat Halaman RS Marzoeki Mahdi)
    – Lomba Tenis Meja Beregu (Pa, Tanggal 11-12 Oktober 2018, tempat Gedung Parkir RS Hermina)
    – Lomba Bulu Tangkis Beregu 9Pa, Tanggal 15-17 Oktober 2018, tempat GOR Taman Yasmin)
    – Lomba Futsal (Pa/Pi, Tanggal 22-24 Oktober 2018, tempat Lap. Futsal Taman Yasmin)
  • Lomba-Lomba Seni
    – Lomba Menyanyi Duet (Tanggal 29 Oktober 2018, tempat Gedung Serbaguna RS Hermina)
    – Lomba Hand Hygiene Dance (Tanggal 30 Oktober 2018, tempat Gedung Serbaguna RS Hermina)
  • Lomba MTQ (Tanggal 1 Nopember 2018, tempat Gedung Serbaguna RS Hermina)
  • Lomba Kantor Pemerintah Bersih dan Sehat (Bulan Juli dan Agustus 2018)
  • Lomba Cipta Inovasi Puskesmas (tanggal 24 Oktober 2018, tempat Aula RS PMI)
  • Pemilihan Duta Muda Sehat Tingkat Kota Bogor Tahun 2018 (awal Nopember 2018)
  • Lomba Vlog #teuhayangngaroko Tingkat Kota Bogor tahun 2018 (akhir Nopember 2018)
  • Upacara Peringatan HKN ke 54 pada hari Senin, 12 November 2018, tempat di Area Depan GOR Pajajaran Kota Bogor diikuti oleh seluruh insan kesehatan dari berbagai institusi kesehatan di Kota Bogor.
  • Acara puncak HKN Ke-54 Tingkat Kota Bogor yang akan dihadiri Bapak Walikota Bogor, diawali dengan carnaval institusi kesehatan, senam sehat bersama, pengumuman dan pemberian hadiah lomba, hiburan,dll.

Nah, sudah siapkah Anda untuk ikut berpartisipasi dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional tahun ini? Ingat, partisipasi dan dukungan Anda sangat berharga demi tercapainya masyarakat Kota Bogor dan masyarakat Indonesia yang lebih sehat.

(Advertorial dari Seksi Infokes Dinas Kesehatan Kota Bogor) 

 

 

Bima Ajak Warga Dan Aparat Berantas DBD

Kota Bogor – Dihadapan puluhan warga Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat Walikota Bogor Bima Arya menekankan agar semua pihak ikut memberantas penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), mulai dari aparatur pemerintah di wilayah, puskesmas hingga warga, Jumat (01/02).

Menurut Walikota, fogging atau pengasapan bukan segalanya dan bukan satu-satunya upaya untuk memberantas DBD. Lengkapi fogging dengan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk 3M Plus (Gertak PSN 3M Plus) secara terus menerus untuk memberantas sarang nyamuk.

“Seluruh aparatur wilayah dibantu puskesmas dan warga harus mensosialisasikan Gertak PSN 3M Plus kepada warga yang lain. Masih banyak warga yang salah paham tentang fogging, seolah-olah di fogging sekali nyamuk mati setahun tidak ada lagi,” katanya saat Pencanangan Gertak PSN 3M Plus di Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Jumat (01/02/2019) pagi.

Walikota yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Rubaeah dan Camat Bogor Barat, Pupung W. Purnama beserta jajaran Kecamatan Bogor Barat meminta agar pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan seminggu sekali lebih digiatkan menjadi setiap hari dengan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada titik-titik yang teridentifikasi nyamuk bersarang.

“Cek ke sekolah, majlis ta’lim, posyandu, pesantren, warung dan semua titik-titik yang berpotensi nyamuk bersarang,” tuturnya.

Bagi aparatur wilayah Wali Kota menginstruksikan untuk membuat sistem piket dan patroli agar selalu siaga ketika ada informasi warga yang terindikasi wabah DBD. Jangan sampai telat menangani dan jangan sampai terlambat.

“Insya Allah kita ikhtiar tidak ada lagi warga meninggal karena DBD. Pastikan selalu siaga, jalankan sistem piket dan keliling identifikasi, pastikan tidak hanya fogging, pastikan pemeriksaan jentik-jentik maupun sarang nyamuk secara teliti dan seksama,” ujarnya.

Mengenai data kasus dan jumlah penderita DBD harus betul-betul dilakukan secara baik sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memiliki informasi yang jelas. “Jangan ditutupi, harus transparan, jalin koordinasi dengan semua pihak,” katanya.

Kepala Dinkes Kota Bogor, Rubaeah dalam laporannya menyebutkan data kasus DBD di Kota Bogor berjumlah 132 kasus, termasuk 3 kasus yang meninggal. Dengan jumlah kasus terbanyak ada di Kecamatan Bogor Barat sebanyak 50 kasus. Sedangkan untuk Kecamatan Tanah Sareal 15 kasus, kecamatan Bogor Utara 25 kasus, Kecamatan Bogor Tengah 14 kasus, kecamatan Bogor Selatan 16 kasus dan Kecamatan Bogor Timur 12 kasus.

“Kasus DBD di Kota Bogor dalam periode 2015-2018 ada penurunan. Namun awal Januari 2019 ada peningkatan dibandingkan tahun 2018 di periode yang sama. Kasus DBD biasanya terjadi di Januari hingga Februari, dari 50 kasus DBD di Bogor Barat menyebar hampir di seluruh wilayah Bogor Barat dengan kasus terbanyak ada di Kelurahan Pasir Jaya sebanyak 8 kasus,” sebut Rubaeah.

Usai pencanangan dan deklarasi Gertak PSN 3M| Plus di Balumbang Jaya dengan mengecek ke SDN Balumbang Jaya, kemudian mengunjungi rumah warga dan PAUD di RT.002 RW.004.

Saat memeriksa secara langsung, Bima didampingi jajaran Dinkes Kota Bogor dan Tim Gertak PSN 3M Plus Balumbang Jaya menemukan jentik nyamuk di penampungan air dispenser milik salah seorang warga dan air hujan yang tertampung. Untuk itu ia menghimbau agar tim Gertak PSN 3M Plus lebih teliti memeriksa titik yang berpotensi nyamuk bersarang.

Gertak PSN 3M Plus di Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat merupakan bagian dari Gertak PSN 3M Plus yang dilakukan di 68 kelurahan di Kota Bogor. Program PSN, yaitu: 1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain 2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain. (adv)

PERKEMBANGAN KASUS DBD DI KOTA BOGOR TERKINI (SD. Januari 2019)

BOGOR- Demam Berdarah atau DBD masih menjadi penyakit yang menakutkan di kalangan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat hingga 16 Januari 2019 terjadi 93 kasus DHF dari 25 puskesmas 68 kelurahan di Kota Bogor. Dari 93 kasus tersebut, 10 di antara DSS. * penderita DSS berasal dari wilayah Kecamatan Bogor Barat. Urutan teratas kasus DBD tahun 2019 berasal dari wilayah kerja Puskesmas Bogor Utara yaitu 12 kasus. Adapun kasus meninggal dunia tahun 2019 3 orang berasal dari wilayah Balumbang Jaya, Ciluar dan Tanah Baru. Adapun Kelurahan dengan kasus tertinggi adalah Kelurahan Ciparigi dengan 6 kasus. Adapun Kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi adalah Kecamatan Bogor Barat dengan 28 kasus DBD. Padahal ada langkah langkah pencegahan agar tak terjangkit penyakit mematikan itu yakni pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M PLUS) menguras,menutup,mendaur ulang,serta memakai lotion anti nyamuk, kelambu dan tanaman anti nyamuk.
Sebetulnya Kota Bogor telah mengalami penurunan kasus DBD yang sangat berarti setiap tahunnya. Yakni 1.107 kasus ditahun 2015 dengan insiden Rate (IR) (Red,kasus baru) 108 per 100.000, lalu 1.225 kasus IR 116 per 100.000 di tahun 2016 serta 849 kasus IR 79 per 100.000 di tahun 2017. 727 kasus dengan IR 66 per 100.000 pada tahun 2018. Dari 727 kasus pada tahun 2018, 403 kasus (55,4%) adalah usia 5-14 tahun, usia sekolah TK sampai dengan SMP. Sehingga pada tahun ini kita akan memberi perhatian lebih kepada sekolah-sekolah melalui gerakan PSN dengan kader jumantik siswa kelas 4-5 SD.
Target IR 2018, berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah Nasional (RPJMN) dan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) adalah 47 per 100.000 . sehingga dengan penduduk Kota Bogor yang ada saat ini maka seharusnya kasus tidak melebihi angka 500 kasus. Untuk mencapainya Dinkes sudah melatih kader jumatik yang berasal dari unsur masyarakat dan pendididikan yaitu anak sekolah. Lakukan PSN minimal 1x per minggu dan upayakan dilakukan serentak se Kota BOGOR.
Jika PSN dilakukan dengan baik maka tindakan fogging tak perlu dilakukan. Sebab fogging dilakukan dengan syarat tertentu. Jika ada penderita DBD maka petugas puskesmas akan melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) kewilayah di mana penderita tinggal. Kemudian memeriksa rumah rumah dalam radius 100 meter untuk memastikan apakah ada jentik nyamuk atau tidak. Setelah itu mencari lagi apakah ada penderita DBD lain atau penderita dengan gejala panas. Jika ditemukan kedua hal itu maka hasilnya positif. Sedangkan jika tidak maka hasilnya negatif.
Intinya ketika terjadi penularan berarti telah terjadi kedapatan nyamuk yang harus segera diberantas melalui upaya PSN dan fogging. Sebelum pelaksanaan fogging wajib dilakukan PSN terlebih dahulu dan PSN harus menjadi kegiatan rutin yang tidak boleh ditinggalkan. PSN harus di lakukan minimal 1x perminggu dengan menguras dan menyikat bak mandi/tempat-tempat penampungan air, tampungan air dispenser, tempat air minum burung, dan tempat-tempat yang berpotensi menampung air dan dapat di pergunakan oleh nyamuk untuk meletakan telurnya dan menetas lalu menjadi nyamuk. Banyak di jumpai warga meletakan sampah di dalam wadah yang tidak tertutup, dan berpotensi menimbulkan genagan air dan menjadi tempat perindukan nyamuk. Tempat penampungan sampah HARUS tertutup. Untuk tempat-tempat penampungan air, gunakan abate 1 sendok makan peres untuk 100 liter air. Abate gratis dapat di ambil di Puskesmas. Jangan lupa menutup tempat-tempat penampungan air agar tidak menjadi tempat telur nyamuk, dan mendaur ulang barang-barang bekas. Parit, saluran air, harus selalu di bersihkan dari sampah, gulma dan tanah agar mengalir dengan lancar tidak tersumbat. Ketika air tergenang, maka berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk.

Berikut data DBD Kota Bogor tahun 2018 dan 2019 :
Kelurahan dengan kasus DBD tertinggi Tahun 2018 :
Kelurahan kedung Badak 30 kasus
Kelurahan Mekarwangi 28 kasus
Kelurahan kencana 27 kasus
Kelurahan katulampa 25 kasus
Kelurahan cipaku 23 kasus
Kelurahan tanah baru 21 kasus
Kelurahan tegal gundil 21 kasus
Kelurahan pamoyanan 21 kasus
Kelurahan Bantar Jati 20 kasus
Kelurahan pasir jaya 19 kasus
Kelurahan Sindang Rasa 17 kasus
Kelurahan Baranang Siang 15 kasus
Kelurahan Ciparigi 15 kasus
Kelurahan kedung jaya 14 kasus
Kelurahan kedung waringin 13 kasus
Kelurahan Batu tulis 11 kasus
Kelurahan curug mekar 10 kasus
Kelurahan rangga mekar 10 kasus
Kelurahan kertamaya 9 kasus
Kelurahan kayu manis 9 kasus
Jumlah kasus pada 6 kecamatan :
Bogor Selatan 171 kasus
Tanah Sareal 170 kasus
Bogor Barat 152 kasus
Bogor Utara 104 Kasus
Bogor Timur 75 Kasus
Bogor Tengah 55 Kasus
Kelurahan dengan kasus DBD pada Tahun 2019 :
Kelurahan Ciparigi 6 Kasus
Kelurahan Tanah Sareal 6 Kasus
Kelurahan Kedung Badak 5 Kasus
Kelurahan Tanah Baru 5 Kasus
Kelurahan Cimahpar 4 Kausus
Kelurahan Pamoyanan 4 Kasus
Kelurahan Pasirmulya 4 Kasus
Kelurahan Pasirjaya 4 Kasus
Kelurahan Pasirkuda 4 Kasus
Kelurahan Gunung Batu 3 Kasus
Kelurahan Bubulak 3 Kasus
Kelurahan Kebon Kelapa 3 Kasus
Kelurahan Empang 2 Kasus
Kelurahan Tegalega 2 Kasus
Kelurahan Semplak 2 Kasus
Kelurahan Menteng 2 Kasus
Kelurahan Sukadamai 2 Kasus
Kelurahan Katulampa 2 Kasus
Kelurahan Tajur 2 Kasus
Kelurahan Sindangrasa 2 Kasus

Kelurahan Tegal Gundil 2 Kasus
Kelurahan Rangga Mekar 1 Kasus
Kelurahan Batu Tulis 1 Kasus
Kelurahan Genteng 1 Kasus
Kelurahan Cikaret 1 Kasus
Kelurahan Lawang Gintung 1 Kasus
Kelurahan Baranangsiang 1 Kasus
Kelurahan Sukasari 1 Kasus
Kelurahan Cibuluh 1 Kasus
Kelurahan Kedung Halang 1 Kasus
Kelurahan Ciluar 1 Kasus
Kelurahan Bantarjati 1 Kasus
Kelurahan Pabaton 1 Kasus
Kelurahan Ciwaringin 1 Kasus
Kelurahan Babakan Pasar 1 Kasus
Kelurahan Babakan 1 Kasus
Kelurahan Curug Mekar 1 Kasus
Kelurahan Curug 1 Kasus
Kelurahan Sindang Barang 1 Kasus
Kelurahan Situ Gede 1 Kasus
Kelurahan Cilendek Timur 1 Kasus
Kelurahan Cilendek Barat 1 Kasus
Kelurahan Kebon Pedes 1 Kasus
Kelurahan Kedung Jaya 1 Kasus
Kelurahan Kayumanis 1 Kasus
6 Kasus DBD Per Kecamatan Tahun 2019 :
Bogor Barat 28 Kasus
Bogor Utara 21 Kasus
Tanah Sareal 16 Kasus
Bogor selatan 11 Kasus
Bogor Tengah 9 Kasus
Bogor Timur 8 Kasus
Himbauan kepada Masyarakat untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan bila merasakan gejala demam, pusing, mual atau gejala apapun yang tidak biasa. Upaya pertolongan pertama dengan banyak minum air putih. 5 Puskesmas di Kota Bogor adalah Puskesmas Rawat Inap yang buka 24 Jam yaitu, Puskesmas Tanah Sareal, Puskesmas Mekarwangi, Puskesmas Pasirmulya, Puskesmas Bogor Utara, Puskesmas Pulo Armyn.

LAKUKAN GERAKAN SERENTAK PSN DENGAN 3M PLUS (GERTAK PSN 3M PLUS) SECARA RUTIN 1 MINGGU SEKALI DI MASING-MASING WILAYAH.
LINDUNGI ANAK DAN KELUARGA KITA DARI GIGITAN NYAMUK PENYEBAR PENYAKIT DEMAM BERDARAH.
(MOHON DIVIRALKAN DI MEDIA)

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Dr. Sari Chandrawati,M.Kes
(No. HP. 0896 2703 2225)
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular serta Surveilans (P3MS)
Dinas Kesehatan Kota Bogor

PERTEMUAN AP-CAT (ASIA PACIFIK CITIES ALLIANCE FOR TOBACCO CONTROL) “DEMI INDONESIA DAN KOTA BOGOR YANG LEBIH SEHAT

Dr. Erna Nuraena
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat
Pada Dinas Kesehatan Kota Bogor

Asia Pacific Cities Alliance for Tobacco Control (AP-CAT) adalah jejaring/perkumpulan dari Walikota dan Bupati se Asia Pasifik yang memiliki komitmen dalam pengendalian tembakau. AP-CAT dibentuk pada bulan November 2016, dengan Ketua Bima Arya (Walikota Bogor-Indonesia) dan Wakil Ketua adalah Francis Anthoni S. Garcia (Walikota Balngga-Filipina). Pada saat didirikan AP-CAT diikuti oleh 12 kota dari 8 negara . Pada tahun ke-2 diikuti oleh 21 kota/ kabupaten  dari  8 negara dan sampai saat ini diikuti oleh  40 kota/kabupaten dari 12 negara yang tergabung dalam AP-CAT.

Tujuan dibentuknya AP-CAT memiliki agenda utama yaitu membangun komitmen politik bahwa pemimpin memiliki peran penting dalam perkembangan pembangunan kesehatan baik ditingkat nasional dan daerah dengan strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Membuat dan mengimplementasikan kebijakan dalam pengendalian tembakau;

Membuat kebijakan lokal di masing-masing kota/kabupaten dalam mencegah penyakit tidak menular;
Mencegah intervensi industri rokok dalam mempengaruhi kebijakan politik dengan penguatan regulasi, melibatkan masyarakat, stake holder terkait dan media.

Pertemuan AP-CAT ke-3 tahun 2018 yang telah dilaksanakan pada tanggal 4 sampai dengan 6 Desember 2018 di Singapura didapatkan kesepakatan dari pemimpin kota/kabupaten, organisasi professional/NGO serta media untuk memperkuat komitmen dalam memerangi tembakau dan penyakit tidak menular, melalui upaya-upaya sebagai berikut:
Menerapkan dan mengendalikan angka kejadian penyakit tidak menular sesuai dengan rekomendasi WHO dengan cara mengurangi konsumsi alkohol; mengurangi diet tidak sehat; meningkatkan aktifitas fisik; pengelolalan dalam penyakit jantung,kanker, diabetes serta penyakit tidak menular lainnya
Melaksanakan pengendalian tembakau dengan cara terbaik, antara lain : mewujudkan 100% KTR; pelarangan total iklan, promosi dan sponsor rokok; mendorong pemerintah dalam memperbesar PHW (picture health warning) dalam bungkus rokok, mendorong pemerintah menaikkan harga cukai rokok, mencegah masalah kesehatan masyarakat, menciptakan generasi muda tanpa rokok serta meningkatkan dan memperkuat aliansi pimpinan di tingkat daerah dan nasional.

Pada pertemuan ke-3 AP-CAT tahun 2018 tersebut, pemerintah kota Bogor menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukan selama 1 tahun (2018) dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan pengendalian tembakau di Kota Bogor. Adapun hal-hal yang telah dilakukan dalam pencegahan penyakit tidak menular adalah adanya kebijakan pemerintah melalui Perwali No.48 Tahun 2018 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dengan fokus pada implementasi makan sayur dan buah, cek rutin kesehatan, aktifitas fisik dan tidak merokok. Upaya pengendalian tembakau dilakukan dengan adanya pelarangan display rokok di seluruh retail modern di Kota Bogor, upaya perbaikan kebijakan melalui revisi Perda Nomor 12 Tahun 2009 tentang KTR serta kampanye kreatif No Tobacco Generation yang telah dilaksanakan pada bulan Nopember 2018 yang baru lalu dan selanjutnya akan diagendakan secara berkala.

Pemerintah Kota Bogor dalam 1 tahun yang akan datang akan lebih fokus dalam Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan melaksanakan deteksi dini PTM pada PNS di masing-masing OPD, dimana mereka sebagai pelayan masyarakat harus memiliki kebugaran yang prima dan masyarakat serta monitoring hasil kesehatan secara sistematis. Selain itu meningkatkan upaya pengendalian tembakau dengan semakin memperkuat implementasi KTR dan pelarangan display rokok, membentuk generasi muda Kota Bogor sehat tanpa rokok di semua usia, monitoring dan evaluasi terpadu terhadap program KTR dan PTM serta meningkatan kepatuhan di kawasan pasar tradisional dengan melakukan pembinaan dan pendampingan kepada pengelola, tenant, pedagang dan pengunjung.

Selanjutnya, sesuai kesepakatan bersama pelaksanaan AP-CAT ke-4 pada tahun 2019 akan dilaksanakan pada bulan September 2019 di Kota Bogor. Semoga Kota Bogor bisa menjadi tuan rumah yang baik dan memperlihatkan keberhasilan dalam upaya-upaya pengendalian tembakau melalui implementasi Kawasan Tanda Rokok (KTR) dan Penyakit Tidak Menular (PTM).

Kota Bogor pasti bisa.

DOKUMENTASI KEGIATAN PERTEMUAN AP-CAT KE-3 TAHUN 2018

Cegah Merokok, Dinkes Kota Bogor Akan Gelar FGD Disetiap Sekolah

Kota Bogor – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Rubaeah merasa prihatin,  pasalnya dari hasil data penelitian tahun 2016 sebanyak 15 persen pelajar dikota hujan merupakan perokok. “Pelajar di Kota Bogor jumlahnya 11 ribuan. Sekitar 15 persennya perokok, baik laki-laki maupun perempuan. Ini data hasil penelitian tahun 2016,” ungkapnya di sela kampanye #TeuHayangNgarokok dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-54 di Taman Ekspresi, Sempur, Sabtu lalu (24/11/2018).

Karena itu, lanjut Rubaeah, pihaknya menaruh perhatian yang besar terhadap generasi yang akan datang sesuai program pemerintah dan nawacita Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, salah satunya ingin mewujudkan masyarakat yang berkualitas dan sehat tanpa asap rokok.

“Untuk itu Pemerintah Kota Bogor berkomitmen mengendalikan tembakau di wilayah Kota Bogor. Melalui kegiatan hari ini kita berharap kehadiran semuanya mendukung komitmen kita,” harapnya.

Rubaeh menambahkan, sejak 2009 Kota Bogor telah mengendalikan tembakau dengan diterbitkan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (Perda KTR) nomor 12 Tahun 2009. Perda tersebut untuk melindungi para perokok pasif, anak-anak, para ibu dan wanita.

Lebih jauhnya ingin mencegah perokok pemula dimana para generasi muda khususnya para siswa siswi sudah tertarik dengan rokok melalui adanya iklan-iklan rokok dan lingkungan perokok. “Untuk itu perlu adanya pencegahan agar kita memiliki generasi yang berkualitas, bermutu dan sehat,” ujarnya.

Untuk mencegah para siswa agar tidak merokok, lanjut dia, Dinkes mempersiapkan program yang tujuannya menangani para perokok yang masih usia sekolah salah satunya Focus Group Discussion (FGD) di sekolah-sekolah. Setiap pekan, Duta Muda Sehat Kota Bogor melakukan sosialisasi dan memberikan informasi serta penyuluhan akan bahaya merokok, menghindari lingkungan yang penuh rokok dengan menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan.

Dinkes Kota Bogor bertekad untuk para generasi muda Kota Bogor dari bahaya rokok melalui penyuluhan-penyuluhan ke sekolah-sekolah.Hal ini menurut Rubaeah diperlukan mengingat para pelajar memiliki kerentanan akan menjadi sasaran rokok. (boy)

AKU CINTA SEHAT, AYO HIDUP SEHAT MULAI DARI KITA

“Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-54 Tahun 2018”

Kota Bogor – Sejarah lahirnya Hari Kesehatan Nasional yang diperingati setiap tanggal 12 November berawal dari upaya pemberantasan penyakit Malaria di Indonesia. Di era 50-an, penyakit Malaria mewabah di Indonesia. Penyakit ini menjangkiti hampir semua masyarakat di seluruh negeri.

Terdapat ratusan ribu orang yang tewas akibat wabah Malaria tersebut. Akibat banyaknya korban yang jatuh, pemerintah kemudian segera mengambil tindakan dengan melakukan beragam upaya untuk membasmi Malaria. Upaya pembasmian penyakit Malaria dimulai tepatnya pada tahun 1959 dengan dibentuknya Dinas Pembasmian Malaria oleh pemerintah. Empat tahun kemudian, yaitu pada tahun 1963, namanya kemudian diganti menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria yang disingkat menjadi KOPEM. Upaya pembasmian ini dilakukan oleh pemerintah dengan dibantu organisasi kesehatan dunia WHO dan USAID.

Dengan dilakukan upaya pemberantasan Malaria tersebut, pemerintah berharap Malaria bisa benar-benar diberantas. Bentuk upaya pemberantasan penyakit Malaria sendiri dilakukan dengan menggunakan obat jenis DDT. Penyemprotan obat ini dilakukan secara massal ke rumah-rumah penduduk yang ada di pulau Jawa, Bali dan Lampung. Presiden Soekarno yang menjabat sebagai Presiden RI kala itu, melakukan penyemprotan pertama secara simbolis pada tanggal 12 November 1959, bertempat di desa Kalasan, Yogyakarta. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN) untuk diperingati setiap tahunnya.

Tema perayaan HKN setiap tahunnya berbeda-beda. Namun, tentu saja dengan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia sekaligus pemahaman mereka akan pentingnya hidup sehat. Biasanya, akan ada beragam kegiatan yang dilakukan guna meramaikan acara yang diawali oleh pembukaan dari Menteri Kesehatan ini. Terlepas dari bentuk acara dan jenis kegiatan yang ada di dalamnya, perayaan HKN sendiri tidak akan berjalan dengan mulus tanpa dukungan semua pihak. Diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dengan kepala daerah, dunia usaha, sampai dengan organisasi kemasyarakatan agar persiapan acara bisa dilakukan dengan baik. Dukungan masyarakat juga diperlukan dengan berpartisipasi langsung selama acara, baik dengan mengikuti lomba atau hanya sekadar hadir untuk mendengarkan talk show tentang kesehatan yang biasanya diberikan.

Menyongsong perayaan Hari Kesehatan Nasional yang ke-54 pada tanggal 12 November 2018 mendatang, marilah kita mengkaji kembali apa yang sudah berhasil dicapai dengan adanya perayaan tersebut. Saat ini masyarakat sudah semakin mudah untuk mengakses fasilitas kesehatan. Terbukti dengan adanya peningkatan pelayanan kesehatan di berbagai daerah, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Selain peningkatan pelayanan kesehatan, infrastruktur fasilitas kesehatan pun sudah semakin memadai, tersedia jaminan kesehatan nasional (JKN) dengan sistem gotong royong. Untuk daerah-daerah terpencil, bahkan pemerintah sudah menyediakan flying doctor dan rumah sakit bergerak, sehingga pelayanan kesehatan juga bisa menjangkau daerah-daerah tersebut.
Momentum Hari Kesehatan Nasional ke-54 Tahun 2018 menjadi pengingat publik bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya akan terwujud, apabila semua komponen bangsa; masyarakat, organisasi kemasyarakatan, swasta berperan serta dalam upaya kesehatan, dengan lebih memprioritaskan promotif-preventif dan semakin menggalakkan serta melembagakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), tanpa mengabaikan kuratif-rehabilitatif. Pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, akademisi dan praktisi turut ambil bagian dalam peringatan HKN untuk mendukung pembangunan kesehatan Masyarakat semakin mengerti arti penting perilaku dan lingkungan sehat, serta melakukan gerakan hidup sehat, baik di keluarga, tempat kerja, tempat-tempat umum dan fasilitas lainnya.

Dengan mengacu pada Buku Panduan HKN Ke-54 tahun 2018 yang dikeluarkan oleh Kementria Kesehatan RI, bahwa tema HKN Ke-54 Tahun 2018 adalah “Aku Cinta Sehat”, dengan sub tema “Ayo Hidup Sehat…Mulai Dari Kita” dan pesan-pesan pendukung sebagai berikut :
SALAM SEHAT, SEHAT INDONESIA
Keluarga Sehat, Indonesia Kuat
Wujudkan Indonesia Sehat dengan promotif dan preventif
Sehatkan diri dan sekitar, mulai dari kita
INTEGRITAS: “Sehat Tanpa Korupsi”. Jaga Diri, Jaga Teman, Jaga Kementerian Kesehatan
Etos Kerja : “Sehat Melayani.” Cepat (No Delay), Tepat (No Error), Bersahabat (No Complaint)
Gotong royong:“Indonesia Sehat”. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat
Budaya Kerja Harian :

1T : Minimal 1 pekerjaan tuntas setiap hari
2K : Minimal 2 kebaikan setiap hari
3S : Senyum, Sapa, Salam
4M : Hadir 4 menit sebelum kegiatan dimulai
5R : Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin

Peringatan HKN Ke-54 Tahun 2018 Tingkat Kota Bogor dimeriahkan dengan berbagai kegiatan dan lomba yang melibatkan berbagai institusi kesehatan yang ada di Kota Bogor mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Apotik, Laboratorium, Akademisi, SMK Kesehatan,dll.

Berikut rangkaian Kegiatan dan Lomba dalam memperingati HKN Ke-54 Tingkat Kota Bogor Tahun 2018, diantaranya :
Lomba-lomba Olah Raga
Lomba Bola Volley (Pa/Pi, Tanggal 8 – 10 Oktober 2018, tempat Halaman RS Marzoeki Mahdi)
Lomba Tenis Meja Beregu (Pa, Tanggal 11-12 Oktober 2018, tempat Gedung Parkir RS Hermina)
Lomba Bulu Tangkis Beregu 9Pa, Tanggal 15-17 Oktober 2018, tempat GOR Taman Yasmin)
Lomba Futsal (Pa/Pi, Tanggal 22-24 Oktober 2018, tempat Lap. Futsal Taman Yasmin)
Lomba-Lomba Seni
Lomba Menyanyi Duet (Tanggal 29 Oktober 2018, tempat Gedung Serbaguna RS Hermina)
Lomba Hand Hygiene Dance (Tanggal 30 Oktober 2018, tempat Gedung Serbaguna RS Hermina)
Lomba MTQ (Tanggal 1 Nopember 2018, tempat Gedung Serbaguna RS Hermina)
Lomba Kantor Pemerintah Bersih dan Sehat (Bulan Juli dan Agustus 2018)
Lomba Cipta Inovasi Puskesmas (tanggal 24 Oktober 2018, tempat Aula RS PMI)
Pemilihan Duta Muda Sehat Tingkat Kota Bogor Tahun 2018 (awal Nopember 2018)

Lomba Vlog #teuhayangngaroko Tingkat Kota Bogor tahun 2018 (akhir Nopember 2018)
Upacara Peringatan HKN ke 54 pada hari Senin, 12 November 2018, tempat di Area Depan GOR Pajajaran Kota Bogor diikuti oleh seluruh insan kesehatan dari berbagai institusi kesehatan di Kota Bogor.

Acara puncak HKN Ke-54 Tingkat Kota Bogor yang akan dihadiri Bapak Walikota Bogor, diawali dengan carnaval institusi kesehatan, senam sehat bersama, pengumuman dan pemberian hadiah lomba, hiburan,dll.

Nah, sudah siapkah Anda untuk ikut berpartisipasi dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional tahun ini? Ingat, partisipasi dan dukungan Anda sangat berharga demi tercapainya masyarakat Kota Bogor dan masyarakat Indonesia yang lebih sehat.

Nopember 2018
Seksi Infokes dan Humas
Dinas Kesehatan Kota Bogor

EFEKTIFKAH PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DENGAN CARA PENGASAPAN (FOGGING)?

Efektifkah Penanggulangan DBD dengan Fogging (fix)

Kota Bogor – Penyakit demam berdarah sampai saat ini masih menghantui Indonesia. Teristimewa bagi Kota Bogor dengan daerah bercurah hujan tinggi yang menguntungkan bagi penularan penyakit ini.

Karena bukan hanya penularannya yang begitu cepat dan sulit untuk diprediksi, tetapi perjalanan penyakit ini selalu dekat dengan kematian. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan penanganan penyakit demam berdarah itu “time is life”, terlambat sedikit saja penanganannya, maka penderita akan segera menghadap yang Maha Kuasa.

Demam berdarah atau lengkapnya Demam Berdarah Dengue (DBD) disebut demikian karena penyakit ini ditandai dengan demam dan manifestasi perdarahan. Masyarakat awam sering keliru menganggap bahwa penyakit ini disebabkan oleh nyamuk.

Padahal embel-embel “dengue” menyatakan bahwa demam berdarah disebabkan oleh dengue, yaitu sejenis virus (arbovirus, family flaviviridae) yang menimbulkan reaksi kekebalan tubuh yang dasyat, sehingga berakibat terganggunya fungsi tubuh serta kebocoran pembuluh darah.

Inilah yang akan menimbulkan efek demam dan perdarahan dengan berbagai gejala yang benar-benar membuat tubuh tidak nyaman dan terganggu. Jika keadaan ini berlangsung terus maka tubuh akan merespon dengan terjadinya syok, dan keadaan ini bisa dikatakan fase kritis yang benar-benar mengancam jiwa.

Petugas melakukan pengasapan (fogging).

Lalu apa hubungannya nyamuk dengan penyakit DBD ini? Kita tahu bahwa virus Dengue tidak akan serta merta menjangkiti manusia kalau tidak dalam keadaan tertentu. Keadaan yang dimaksud adalah pertama virus harus hidup dalam tubuh inangnya yang dalam hal ini manusia penderita DBD.

Kedua untuk menjangkiti manusia lain, virus harus bisa keluar dari tubuh inangnya, bertahan hidup dan bisa masuk ke dalam tubuh manusia lainnya. Ketiga, siapa yang berperan dalam menjemput virus dari tubuh manusia, mempertahankannya, kemudian memasukkan virus kembali ke dalam tubuh manusia yang lain? Berdasarkan penelitian, nyamuklah yang memiliki peranan ini dengan sifatnya sebagai pengangkut dan penular (vector).

Nyamuk yang dimaksud adalah nyamuk jenis Aedes yang terdiri atas jenis Aedes albopictus dan Aedes aegypti. Jenis nyamuk yang ditulis terakhir, disebut sangat berperan dalam menularkan virus dengue, terutama di daerah perkotaan.

Virus akan masuk ke dalam tubuh nyamuk saat nyamuk aedes menggigit seseorang yang tubuhnya sudah terdapat virus dengue. Kemudian saat nyamuk aedes menggigit manusia lain, maka virus dengue akan masuk ke tubuh orang tersebut, mengandakan diri dan menyebar.

Virus dengue akan berada dalam tubuh manusia selama 4-7 hari dan keadaan ini cukup untuk menimbulkan berbagai gejala hingga keparahan seperti yang telah ditulis sebelumnya.

Penularan virus pun akan terjadi pada saat tersebut jika nyamuk menggigit penderita DBD kemudian menggigit manusia lain yang tidak sakit.

Nyamuk Aedes aegypti dan virus dengue.

Kalau begitu, maka biang kerok dari penularan penyakit ini adalah nyamuk aedes, terutama aedes aegypti, maka harus diberantas. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita memberantas nyamuk tersebut? Dalam arti cara yang benar-benar efektif, walaupun kita tidak mungkin memberantas seluruh nyamuk aedes di dunia ini, karena berhubungan dengan keseimbangan alam.

Saat ini kita sering memberantas nyamuk dengan cara pengasapan (fogging). Setiap ada kasus DBD di dalam benak kita adalah segera memberantas nyamuk dengan cara tersebut agar tidak terjadi penularan atau tidak muncul kasus DBB baru.

Tapi cukupkah penanggulangan demam berdarah dengan cara pengasapan tersebut? Fogging sebenarnya adalah salah satu metode untuk membunuh nyamuk terutama efektif terhadap nyamuk dewasa.

Lalu bagaimana dengan nyamuk yang belum dewasa, yang dalam hal ini masih berbentuk jentik (larva)? Sudah pasti tidak akan tertangani dengan cara ini, karena jentik hidup di air yang terlindung dari asap.

Kemudian ketika udara telah bersih dan siap menjadi dewasa, maka nyamuk akan kembali berbahaya menularkan virus dengue. Berarti cara ini tidak terlalu efektif walaupun menjadi favorit untuk sebagian masyarakat.

Lalu cara apa yang lebih efektif? Tidak lain dan tidak bukan adalah cara hidup yang bersih dan sehat. Cara ini bukan hanya untuk diri setiap orang yang benar-benar ingin terhindar dari penyakit DBD, tetapi juga untuk lingkungan sehingga dapat saling menunjang.

Bagaimana melakukannya? Pertama-tama hiduplah dengan cara sehat, makan makanan gizi seimbang, istirahat cukup, olahraga teratur dan berekreasi, serta jangan lupa memperhatikan kesehatan lingkungan.

Khusus untuk nyamuk aedes ini, kita bisa mengusahakan agar tidak berkembang biak, yaitu mengurangi tempat-tempat perindukkannya hingga membasmi larvanya.

Paling utama adalah mencegah agar nyamuk ini tidak leluasa untuk menggigit manusia, dengan menggunakan penghalang atau pengusir nyamuk di tempat kita beraktivitas.

Kegiatan 3 M Plus yaitu menguras, menutup dan mengubur.

Kegiatan ini dinamakan dengan tiga em plus (3 M Plus) yaitu menguras, menutup dan mengubur semua benda atau barang yang tidak lagi digunakan tetapi berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk aedes.

Kemudian plusnya adalah menghalangi atau mengusir nyamuk baik dengan menggunakan benda penghalang (kelambu dan lain-lain) maupun zat-zat yang tidak disukai nyamuk seperti zat gosok beraroma bunga lavender. Jentik nyamuk juga dapat dibunuh dengan larvasida atau menjadi santapan ikan cupang.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan program untuk mencegah dengue (disebut program “Integrated Vector Control”) yang mencakup 5 (lima) bagian yang berbeda :

– Advokasi, menggerakkan masyarakat, dan legislasi (undang-undang) harus digunakan agar organisasi kesehatan masyarakat dan masyarakat menjadi lebih kuat.

– Semua elemen masyarakat harus bekerja bersama. Ini termasuk sektor umum (seperti pemerintah), sektor swasta (seperti bisnis/perusahaan), dan bidang perawatan kesehatan.

– Semua cara untuk mengendalikan penyakit harus harus terintegrasi (atau dikumpulkan), sehingga sumber daya yang tersedia dapat memberikan hasil yang paling besar.

– Keputusan harus dibuat berdasarkan pada bukti. Ini akan membantu memastikan bahwa intervensi (tindakan yang dilakukan untuk mengatasi dengue) berguna.

– Wilayah di mana dengue menjadi masalah harus diberi informasi dan pengetahuan, sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk merespon dengan baik penyakit dengan usaha mereka sendiri.

Upaya-upaya tersebut di atas telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor. Pada dasarnya kita berharap agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat DBD, dan seluruh masyarakat Kota Bogor terhindar dari penyakit tersebut, dapat hidup sehat dan berproduktif.

Armein Sjuhary Rowi, dr., M.Kes, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional Dinas Kesehatan Kota Bogor

Seksi Infokes dan Humas Dinas Kesehatan Kota Bogor

Puskesmas Di Kota Bogor Sudah Mampu Cegah Penularan HIV/AIDS

Kota Bogor – Sejumlah Puskesmas dan rumah sakit di Kota Bogor sudah mampu melakukan perawatan dukungan dan pengobatan HIV dan screening Early Infant Diagnosis (EID), hal ini dilakukan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penularan HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Rubaeah, mengatakan ada enam Puskesmas yang mampu melakukan perawatan dukungan dan pengobatan HIV serta screening EID. Bahkan 25 Puskesmas lainnya sudah mampu melakukan pemeriksaan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS).

“Pemeriksaan EID dilakukan oleh RS Hasan Sadikin, Bandung. Sementara enam Puskesmas sudah mampu melakukan perawatan dukungan dan pengobatan HIV serta screening EID yaitu Puskesmas Tanah Sareal, Puskesmas Sempur, Puskesmas Bogor Timur, Puskesmas Bogor Selatan, Puskesmas Sindang Barang dan Puskesmas Kedung Badak,” Ujar Rubaeh, Kamis (25/10).

Sementara untuk rumah sakit yang telah menyediakan pemeriksaan HIV, yaitu RSUD Kota Bogor, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Rumah Sakit Azra, Rumah Sakit PMI dan Rumah Sakit Hermina dan Rumah Sakit Medika Dramaga.

“Tahun 2019 kita akan menambah jumlah Puskesmas maupun rumah sakit yang mampu melakukan perawatan dukungan dan pengobatan,” pungkasnya. (boy)