Sekolah Ibu Turunkan Angka Perceraian di Kota Bogor

Kota Bogor – Sekretaris Dae­­rah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat menilai program Sekolah Ibu sebagai program yang mampu mengu­rangi angka perceraian di Kota Bogor. Hal ini dikatakan Ade Syarif kepada wartawan engingengnews.com dikantornya, Sabtu (07/09).

“Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor ingin mengubah sikap peran dan perilaku seorang ibu sebagai pribadi di rumah tangga. Infor­masi di Kementerian Agama (Kemenag) di persida­ngan Pengadilan Agama (PA) Kota Bogor sudah sangat berkurang tingkat perceraian Kota Bogor,” ujarnya.

Selain itu, program Sekolah Ibu juga diharapkan dapat membentuk anak di keluarga. Karena para ibu memiliki kemampuan berkomunikasi dengan anak-anaknya dan juga suaminya.

Masyarakat yang madani, menurut Ade, berangkat dari keluarga. Ketika keluarga sudah baik maka Kota Bogor akan madani dan bersahabat kota­nya. Karena itu, ini harus dieva­luasi kehidupan keluarga di Kota Bogor misalnya berku­rang pemakaian narkoba, tawu­ran, pemakaian gawai, dan perilaku negatif lainnya.

Sperti diketahui diawal bulan September sebanyak 960 peserta Sekolah Ibu, dari tiga kecamatan di Kota Bogor menjalani prosesi wisuda di Gor Indoor Pajajaran, Jalan Pemuda, Kecamatan Tanah Sareal, Selasa (03/09).

Prosesi wisuda dilakukan langsung oleh Wali Kota Bima Arya yang ditandai dengan pemindahan tali toga dari sebelah kiri ke sebelah kanan.

Ketua Panitia Wisuda Sekolah Ibu, Artiana Yanar Anggraini menyampaikan, peserta wisuda Sekolah Ibu kali ini berasal dari Kecamatan Bogor Barat 480 orang, Bogor Timur 180 orang, dan Bogor Tengah 300 orang. “Meski Sekolah Ibu hanya berlangsung selama 20 kali pertemuan, atau sekitar 2,5 bulan, diharapkan para peserta bisa memanfaatkan ilmu yang didapat dari Sekolah Ibu di dalam keluarganya,” ungkap Anna.

Anna yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pember­dayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPM­PPA) ini menutur­kan, peserta Sekolah Ibu mengalami peruba­han setelah mengikuti Sekolah Ibu.

Diharapkannya, para wisuda­wan Sekolah Ibu bisa menjalani hubungan keluarga yang harmonis. Karena dampak Sekolah Ibu ini terbukti dengan turunnya angka gugatan perceraian di Pengadilan Agama Kota Bogor. “Di 2016 gugatan perceraian 83 perkara, 2017 turun menjadi 79 perkara, dan 2018 turun lagi menjadi 54 perkara,” pungkasnya. (boy)

Wujudkan Kesehatan Masyarakat, Pukesmas Bogor Utara Terus Tingkatkan Pelayanan

Kota Bogor – Puskesmas Bogor Utara Kota Bogor telah selesai melaksanakan Re- Akreditasi, oleh Tim Surveyor Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), Kamis (05/09).

Untuk penilai sendiri, dalam Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), mengungkapkan, secara pasilitas Puskesmas Bogor Utara sudah terlihat rapih dan bagus sesuai standarisasi kesehatan.

“Pada Re- akriditasi ini tugas kami melihat apakah Puskesmas sudah memenuhi standarnisasi pelayanan atau belum,” ujar salah seorang tim penilai, Kamis (05/09)

Banyak hal yang telah berubah dari pelayanan Puskesmas Bogor Utara, tentu ini menjadi tolak ukur bagi tim penilai.

“Tadi di tempat pelayanan sempat saya tanya pasien, mereka merasa puas dengan pelayanan dan pasilitas Puskesmas Bogor Utara,” tandasnya.

Kepala Puskesmas Bogor Utara dr. Oki Kurniawan mengatakan terkait pelaksanaan Re akreditasi tahun ini pihaknya akan terus meningkatkan mutu pelayanan di Puskesmas.

“Sesuai visi misi kami, Terwujudnya masyarakat Bogor Utara yang mandiri untuk hidup sehat,” katanya.

Dokter Oki sapaan akrabnya, menambahkan, apapun hasil dari penilaian Re akreditasi tersebut, dia berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan pasien di Puskesmas .

“Kami tidak merasa puas dengan capaian selama ini, tapi semoga menjadi motivasi untuk kedepannya,” ucapnya.

Sementara Camat Bogor Utara Rahmat Hidayat mengatakan ada 4 Inovasi untuk meningkatkan PKM Bogor Utara yakni dengan Kompas (Kelompok Pendukung ASI), Sekuter(Selamatkan dengan kunjungan terpadu), Resik Cermat (beberes asyik ceria semangat), dan Solehah (solusi lewat hati).

“4 cakupan program inovasi ini kita harapkan terus berlanjut agar masyarakat bogor utara hidup bersih dan sehat, ” pungkasnya. (boy)

Waspada Diare, Musim Penghujan Sudah Tiba..

Kota Bogor – Dalam sebulan terakhir, Puskesmas Bogor Selatan Kota Bogor dipenuhi pasien diare terutama anak-anak.

Indriawati Promkes Bogor Selatan mengatakan selain penyakit ispa dan gatal-gatal, pasien diare dengan jumlah terbanyak. “Dalam sehari bisa 5 hingga 10 orang pasien yang berobat karena diare,” ujar Indriawati, Rabu (04/09).

Menurutnya banyak kasus diare ini dikarenakan terjangkiti virus yang menyebar. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat, disertai pola makan yang kurang sehat diduga sebagai salah satu yang mempercepat penyebaran virus penyebab diare ini.

Oleh karena Indriawati mengimbau para orang tua untuk mewaspadai hal ini dengan tetap mengawasi anak-anaknya agar terjaga makannya serta kebersihannya.

“Tolong orang tua mengawasi ketat anak-anaknya. Jangan jajan sembarangan. Kalau mau makan cuci tangan yang bersih sebab tangan yang kotor menjadi salah satu sumber penyakit. Di sekolah juga kalau bisa habis belajar atau bermain supaya segera mencuci tangan. Intinya kondisi fisik anak harus tetap terjaga sehingga tidak mudah terserang virus,” pesannya.

Indriawati kembali menghimbau kepada para orangtua harus mewaspadai tanda-tanda dehidrasi pada anak. Penderita juga disarankan untuk meminum banyak cairan selama diare masih berlangsung. (boy)

Lomba UKS Mendidik Lingkungan Sekolah Tetap Bersih dan Sehat

Kota Bogor – Tim Penilai Lomba Unit Kesehatan Sekolah (UKS) Kota Bogor tingkat SMP Kamis pagi (29/08) mengunjungi SMP Negeri 13 Pamoyanan Bogor Selatan Kota Bogor.

Tim penilai yang terdiri dari Dinas Pendidikan, Satuan Polisi Pamong Praja, Dewan Pendidikan Sekolah dan dari Dinas Kesehatan Kota Bogor diterima langsung Kepala Sekolah dan Jajaran pendidik dan siswa SMP Negeri 13 Kota Bogor.

Kepala SMP Negeri 13 Tatang Mulyana mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mempercayakan kepada SMPN 13 yang dipercaya untuk mewakili Bogor Selatan dalam lomba UKS.

“Alhamdulillah kami dipercaya mewakili Bogor Selatan dan kami siap untuk meraih yang terbaik dalam lomba UKS tingkat Kota Bogor,” ujar Tatang kepada engingengnews.com, Kamis (29/08).

Sementara tim Penilai dari Dinas Kesehatan Ida Sopayanti. S. Pd., mengatakan bahwa
untuk Kriteria lomba UKS ini meliputi penyelenggaraan pendidikan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan di sekolah, pembinaan lingkungan kehidupan sekolah baik fisik, mental maupun lingkungan sekolah.

“Dari kriteria yang ada lomba UKS ini sangat penting bagi lingkungan sekolah, agar mampu menjadi sekolah yang bersih dan sehat bagi lingkungan sekolah, ” ungkap Ida.

Ida menambahkan dari hasil penilaian yang dilakukan, SMPN 13 cukup memiliki kelebihan baik soal fasilitas kesehatan yaitu ruang UKS dan dan juga lingkungan yang sehat dan bersih.

“saya liat semua lingkungan sekolah baik guru dan siswa cukup respek dengan lingkungan disekolahnya, tak hanya soal lomba tapi kegiatan UKS ini mendidik dan membiasakan agar sekolah belajar hidup sehat,” pungkasnya. (boy)

KEJAR IBADAH BOLEH, KESEHATAN JANGAN DILUPAKAN

Oleh :
dr. Armein Sjuhary Rowi,MKM
Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional
Dinas Kesehatan Kota Bogor

Kota Bogor – Kesehatan sebagai istithoah dalam beribadah haji merupakan syarat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar, hal ini sudah ditegaskan pemerintah dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Istithoah.

Peraturan pemerintah ini menimbulkan berbagai reaksi masyarakat terutama yang memang sangat berniat melaksanakan ibadah haji. Reaksi yang paling sering adalah keberatan, karena menganggap hal ini sebagai tindakan menghalang orang beribadah. Padahal jika jamaah haji tidak sehat, maka tentu saja ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Petugas kesehatan pun tidak bisa membantu, karena peran petugas adalah untuk mendampingi terjaganya kesehatan jamaah agar bisa menunaikan ibadah, tetapi jika jamaah tidak sanggup, maka petugas kesehatan hanya mampu merawat bukan menghajikan jamaah. Demikian pula rekan sesama jamaah pun tidak dapat memberikan pertolongan, ibadah di tanah suci menjadi tanggungjawab pribadi ketika dijalankan.

Banyak calon jamah haji yang tidak peduli akan kesehatannya, dengan asumsi bahwa sehat, sakit dan mati adalah kehendak Allah SWT. Bahkan pernah ada pengalaman, seorang jamaah yang tetap ngotot ingin berangkat menunaikan ibadah haji walaupun kondisinya sudah tidak memungkinkan dan sakit-sakitan. Dia memiliki keinginan untuk meninggal di Tanah Suci. Pada saat itu peraturan Menteri kesehatan belum berlaku dan akhirnya dengan berbagai jerih upaya, Tim Kesehatan mengikhlaskan jamaah tersebut untuk beribadah, tentunya melalui pengawasan dan pendampingan yang ketat. Ternyata saat beribadah jamaah tersebut tidak meninggal juga, bertahan sampai kembali ke tanah air, dan kondisinya yang tidak stabil cukup merepotkan petugas kesehatan serta jamaah yang lain.

Selain itu Ada pula cerita seorang Ibu hamil yang memalsukan kehamilannya dengan meminjam urine (air seni) pembantunya, agar saat diperiksa tidak terdeteksi hamil. Setelah ketahuan Ibu tersebut mengamuk dan memohon untuk diijinkan berangkat ke tanah suci dan beribadah, tetapi petugas kesehatan tetap tegas melarang ibu tersebut.

Beragam cerita ini menunjukkan bahwa masih banyak calon jamaah haji yang mengesampingkan kesehatan, mengganggap bahwa yang utama adalah prosesi ibadahnya bukan kesahatan atau istithoahnya, padahal dengan kondisi demikian justru tidak memungkinkan beribadah haji dan malah menyusahkan orang disekitarnya. Meskipun ukuran nilai ibadah kembali pada Allah, tetapi secara kasat mata manusia bisa tahu bahwa kadar ibadah sudah berkurang dan malah menimbulkan dosa, apabila si jamaah membawa kesusahan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Beberapa kondisi yang perlu dilakukan upaya kesehatan ketat adalah bukan hanya karena jamaah mengidap penyakit menular saja, tetapi penyakit-penyakit yang tidak menular juga. Kasus-kasus hipertensi, diabetes hingga masalah kejiwaan kerap menjadi gangguan saat jamaah beribadah. Harus diwaspadai juga gangguan dimensia pada jamaah usia lanjut. Banyak kejadian, jamaah yang tersesat atau lupa tempat, waktu dan keadaan. Sehingga untuk memaksimalkan tenaga kesehatan, perlu kembali bahwa pada dasarnya kesehatan diri sendiri adalah tanggungjawab pribadi setiap orang. Kondisi tanah suci yang sangat ekstrim juga mempengaruhi kesehatan seseorang, apalagi jika lalai menggunakan pelindung seperti topi, kacamata hitam, masker hingga alas sepatu yang tidak menimbulkan lecet.

Banyak dilaporkan kasus jamaah yang tidak menggunakan pelindung dan berada di lokasi dengan panas yang cukup tinggi, menderita “heat stroke”, yaitu stroke atau terganggunya peredaran darah ke kepala dan otak, akibat bendungan pembuluh darah karena mekanisme adaptasi dengan temperature yang cukup tinggi. Kemudian pola makan juga cukup berpengaruh, biasanya jamaah malas makan atau menunda makan, hal ini akan menyebabkan gangguan kesehatan.

Tahun 2019, Kota Bogor memberangkatkan kurang lebih 1.041 jamaah yang istithoah, dan sebagian ada yang dengan status pengawasan serta pendampingan. Untuk membatasi permasalahan yang muncul, bekal obat-obatan dan pendamping yang memahami kondisi jamaah, sudah disediakan. Pendampingan dari Tim Kesehatan juga tetap tersedia dan semakin intensif dengan pola yang komunikatif. Jamaah haji adalah lebih dari sekedar pasien, karena mereka adalah tamu Allah SWT, maka sudah menjadi kewajiban Tim kesehatan untuk memantau kondisi mereka.

Upaya yang sudah dilakukan pemerintah untuk menjaga kesehatan dan kebugaran jamaah haji adalah melakukan pembinaan yang dimulai sejak jamaah mendaftar ibadah haji, sebelum keberangkatan, di perjalanan, di asrama haji, selama di tanah suci dan setelah kembali ke tanah air. Pembinaan ini bertujuan sebagai sarana mencapai kondisi kesehatan optimal jemaah hingga menjelang keberangkatan. Pola pelaksanaan dapat secara mandiri atau kelompok yang bersifat terus-menerus dan berkesinambungan. Jamaah akan dibimbing untuk sadar akan kesehatan, tindakan-tindakan apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kesehatan dan sebagainya.

Pembinaan kesehatan jamaah yang dimulai dari tanah air adalah dengan tetap mempertahankan kebugaran jamaah. Kemudian saat perjalanan, terutama perjalanan yang ditempuh lewat udara dengan waktu hampir 10 jam dan kondisi berada pada posisi tertentu, yaitu duduk di pesawat udara, mengharuskan jamaah setiap beberapa menit harus berdiri dan bergerak, agar tidak sakit.

Selanjutnya ketika jamaah berada di tanah suci, komitmen untuk berhati-hati dan tetap menjaga kesehatan harus terus dijaga. Jangan biasakan minum air es Zam-zam, karena sering menyebabkan jamaah menjadi batuk-batuk. Waspadai penggunaan toilet dengan tetap memperhatikan higienitas.

Terakhir ketika jamaah kembali ke tanah suci, biasanya faktor kelelahan dapat membuat jamaah sakit, sehingga pastikan segera memeriksakan kesehatan dan perbanyak istirahat.
Terima Kasih

**************

Antisipasi Campak, Puskesmas Sindang Barang Berikan Imunisasi Gratis

Kota Bogor – Puskesmas Sindang Barang Kota Bogor memberikan imunisasi campak gratis di sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sindang Barang, Rabu (07/08).

‘Hari ini kami dari puskesmas memberikan campak gratis kepada 16 siswa madrasah negeri,” ujar petugas bidan Puskesmas Lianna Rennyta.

Menurut Lianna yang didampingi bidan Shanas mengatakan pemberian vaksin campak diberikan secara gratis ini merupakan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang sasarannya siswa kelas satu SD/MI yang rata-rata berumur 7 tahun.

“Untuk wilayah kerja Puskesmas Sindang Barang ada 27 sekolah termasuk madrasah dan akan berlangsung hingga akhir bulan,” ujarnya.

Selain melaksanakan imunisasi campak, Puskesmas Sindang Barang juga memberikan penyuluhan terhadap siswa MIN Kota Bogor tentang kesehatan gizi dan gigi serta perilaku  hidup bersih dan sehat (PHBS) oleh drg. Pujiastuti, Sudiharto.

Sementara Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri, Hj. Tintin Prihartini, S.Pd.M.Pd mengatakan pemberian imunisasi campak sangatlah penting bagi kesehatan, khususnya bagi peserta didik MIN kota Bogor.

“Pemberian vaksin campak ini berguna bagi siswa agar terhindar dari penyakit campak,” katanya.

Pihak madrasah mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Sindang Barang atas kerja samanya. Diharapkan dengan imunisasi ini generasi masa depan Indonesia menjadi sehat dan terhindar dari penyakit, khususnya siswa-siswi MIN Kota Bogor. (ded)

Puskesmas Tanah Sareal Disiapkan Menjadi RSUD Tipe D

Kota Bogor – Mengawali rangkaian kerjanya di minggu pertama dibulan Agustus, Walikota Bogor Bima Arya yang didampingi Wakilnya Dedie. A.Rachim dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat berkunjung ke Puskesmas Tanah Sareal dan Bogor Utara Kota Bogor, Jumat (02/08).

Dalam kunjungannya Walikota bersama rombongan yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr. Rubaeah mengecek sarana prasarana maupun fasilitas pelayanan kesehatan dan sempat menengok beberapa pasien yang sedang menjalani perawatan.

“Kami ingin melihat dan memastikan pelayanan terbaik diberikan kepada warga. Disamping itu juga kita ingin mengetahui penyakit apa saja yang banyak diderita masyarakat pada musim ini,” kata Bima Arya di Puskesmas Tanah Sareal, Jumat (02/08/2019).

Berdasarkan informasi yang diberikan Kepala Puskesmas Tanah Sareal, dr. Ilham Chaidir kata Bima, banyak masyarakat yang menderita penyakit Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu juga yang perlu menjadi perhatian adalah Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular (PTM).

Kedepan setelah melihat fasilitas dan jumlah warga sekitar, pelayanan di Puskesmas Tanah Sareal akan dicoba dikembangkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) tipe D dan saat ini proses Feasibility Study (FS) sudah dimulai.

Ide pengembangan Puskesmas Tanah Sareal dikembangkan menjadi RSUD tipe D, menurut dr. Ilham Chaidir bisa dilakukan mengingat jumlah pasien yang dilayaninya mencapai 250 pasien per hari dengan jumlah penduduk sekitar Puskesmas Tanah Sareal yang mencapai 50 ribu jiwa. Perawatan yang dilaksanakan selama 24 jam dilengkapi 11 bed dan fasilitas serta ruangan lain, diantaranya kamar Ibu dan Anak (KIA), IGD, ruang rawat VIP dan yang lainnya.

Dalam sehari Puskesmas Tanah Sareal bisa menampung 6 hingga 7 pasien untuk proses persalinan, Puskesmas Tanah Sareal rata-rata melayani 15 persalinan sementara untuk pemeriksaan kehamilan mencapai 25 orang.

Pengembangan menjadi RSUD tipe D, lanjut dr. Ilham sudah saatnya ditingkatkan mengingat permintaan masyarakat terhadap kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan semakin meningkat. Upaya ini merupakan satu pendukung untuk memberikan pelayan kesehatan yang lebih baik.

“Untuk jumlah pasien kita juga tidak bisa menutup kemungkinan adanya pasien dari wilayah lain, bahkan dari luar Kota Bogor yang utilitas lintas batasnya mencapai 20 persen,” sebutnya. (boy)

JQR Solusi Menjawab Persoalan Hak Dasar Warga Di Jawa Barat

Bogor – Dalam upaya membangun jiwa kerelawanan dan mewujudkan visi Jabar Juara, puluhan aktivis dan relawan Quick Respon (JQR) dari Delapan (8) Kota dan Kabupaten di Jawa Barat menggelar kegiatan pendidikan dan pelatihan di Bumi Katulampa Kota Bogor, Kamis (25/07).

Kegiatan yang di isi dengan berbagai materi terkait kerelawanan ini merupakan salah satu program Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk menjawab persoalan dasar dimasyarakat terkait soal pendidikan, kesehatan, gizi buruk, rumah tidak layak huni, jembatan darurat, darurat listrik dan bencana alam.

Ketua Umum JQR Bambang Trenggono menegaskan, meski belum genap satu tahun dibentuk Jabar Quick Response (JQR) hingga saat ini sudah 42 ribu kasus yang ditangani dari 52ribu kasus aduan yang masuk di webb JQR.

“Diklat ini memberikan kesepahaman yang sama terhadap relawan JQR dalam menangani masalah dimasyarakat agar bisa ditangani atau dibantu oleh tim JQR,” ujar Bambang, Kamis (25/07).

Sementara Maya relawan asal Kota Depok mengatakan, kegiatan Diklat JQR ini sangat punya manfaat bagi semua anggota, pasalnya pembekalan yang diberi para pemateri semua erat kaitannya dengan persoalan yang terjadi dimasyarakat.

Menurutnya, salah satu pengalaman menjadi relawan JQR adalah saat menolong warga Depok yang terkena musibah kecelakaan.

“Diklat ini membawa manfaat bagi kami sebagai relawan JQR, dari mulai bagaimana pengaduan hingga soal penanganan warga ada dalam materi hari ini,” ungkap Maya.

Kegiatan yang ditutup langsung oleh Kabag Humas Pemprov Jawa Barat yang didampingi Ketua Umum JQR ini diharapkan dapat dukungan penuh oleh seluruh Pemerintah Kota dan Kabupaten di Jawa Barat agar persoalan hak-hak dasar warga dapat terjawab dan tangani dengan baik. (boy)

Inovasi Untuk Cegah Thifoid pada Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor

 

Kota Bogor – Kasus mewabahnya penyakit tifoid dan diare adalah contoh kurang bersihnya makanan jajanan anak sekolah, yang diakibatkan oleh makanan tercemar bakteri. Salmonella sp dan Escherichia coli adalah salah satu contoh bakteri yang dapat mencemari makanan jajanan. Infeksi dari kedua bakteri ini dapat menyebabkan diare akut yang dapat membahayakan jiwa anak (Hidayati, 2011).

Makanan jajanan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat karena budaya jajan sudah menjadi bagian dari keseharian hampir di semua kelompok usia dan kelas sosial. Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel.

Berdasarkan pemeriksaan sampel makanan jajanan di sekolah wilayah Puskesmas Tanah Sareal tahun 2015 dan 2016 didapatkan bahwa dari 42 sampel terdapat 60% makanan tidak tercemar mikroba dan 40% makanan tercemar mikroba. Mikroba yang mencemari makanan tersebut berasal dari jenis Salmonella sp. dan E. coli (Dinkes, 2017). Salmonella sp. merupakan kuman patogen penyebab demam tifoid, yaitu suatu penyakit infeksi sistemik dengan gambaran demam yang berlangsung lama, adanya bakteriemia disertai inflamasi yang dapat merusak usus dan organ-organ hati. Demam tifoid merupakan penyakit menular yang tersebar di seluruh dunia, dan sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan terbesar di negara sedang berkembang dan tropis seperti Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin. Insiden penyakit ini masih sangat tinggi dan diperkirakan sejumlah 21 juta kasus demam tifoid pertahun dengan lebih dari 700 kasus berakhir dengan kematian. Pengetahuan gizi anak sangat berpengaruh terhadap pemilihan makanan jajanan.

Pemeriksaan makanan jajanan di sekolah perlu dilakukan untuk mengetahui cemaran Salmonella sp pada makanan jajanan di beberapa kantin sekolah, karena banyak kasus demam tifoid pada anak usia sekolah di Puskesmas Tanah Sareal. Berdasarkan laporan hasil pengujian Salmonella sp pada makanan jajanan yang dilakukan oleh Bagian Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2017 di dapatkan makanan jajanan sekolah yang mengandung Salmonella sp.

Banyaknya kasus demam tifoid pada usia anak sekolah di Puskesmas Tanah Sareal berawal dari makanan jajanan yang tercemar bakteri Salmonella sp. Cemaran bakteri pada makanan jajanan perlu dianalisis untuk mengetahui makanan jajanan apa saja yang tercemar bakteri Salmonella sp. dan dilanjutkan dengan pemeriksaan tingkat infeksi bakteri Salmonella sp. terhadap responden, serta untuk mengetahui pengetahuan responden terhadap pemilihan makanan jajanan tersebut.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, Puskesmas Tanah Sareal melalui tenaga Analis Kesehatan melakukan pemeriksaan Widal dan pengambilan sampel makanan jajanan kantin dari empat sekolah (SMPN 5, SMPN 8, SMAN 6 dan SMK N 1) dan dilanjutkan dengan uji Salmonella sp. terhadap makanan jajanan tersebut. Pemeriksaan Widal dilakukan terhadap 30 responden dari tiap sekolah dengan komposisi masing-masingnya 10 orang responden dari kelas 1 sampai kelas 3. Kuesioner diberikan kepada seluruh responden yang diambil sampel darahnya untuk mengetahui pengetahuan responden dalam pemilihan makanan jajanan.

Selanjutnya dari hasil pemeriksaan, cemaran Salmonella sp. terdapat pada makanan jajanan diporsikan yaitu mie bakso, mie ayam, soto mie dan gado-gado yang dikonsumsi siswa di sekolah tersebut. Kontaminasi bakteri Salmonella sp. pada panganan yang diporsikan dapat disebabkan oleh makanan yang tidak dipanaskan diatas suhu 60oC, karena Salmonella sp. akan mati pada suhu 60oC (Koneman et al., 1992). Kontaminasi bakteri Salmonella sp. pada panganan yang diporsikan dapat disebabkan oleh penjamah makanan jajanan yang tidak menjaga kebersihan pada saat persiapan, pengolahan dan penyajian makanan jajanan, serta lingkungan di sekitar tempat berjualan yang tidak bersih. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mega et al (2014) bahwa keberadaan Salmonella sp. pada makanan jajanan berasal dari lingkungan sekitar makanan disajikan dan kebersihan pengolahannya.

Lebih lanjut pada tingkat infeksi Salmonella sp. berdasarkan pemeriksan Widal didapatkan hasil bahwa semua siswa yang menjadi responden pernah terpapar bakteri Salmonella sp. Sedangkan untuk tingkat pengetahuan didapatkan secara umum semua responden memiliki pengetahuan pemilihan makanan jajanan yang baik terutama pada responden SMP pada umumnya masih patuh dengan aturan dalam memilih makanan yang didapat dari orangtuanya ataupun aturan sekolah, sedangkan pada responden SMA lebih bebas dalam perilaku pemilihan makanan karena usianya lebih dewasa, uang jajan dari orang tua lebih banyak dan sudah mulai mengabaikan peraturan dari orang tua atau pun sekolah. Umur akan mempengaruhi pengalaman seseorang dalam pemilihan makanan, semakin tinggi umur maka diharapkan mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi (Wawan, 2011).

Paparan tersebut di atas memberikan informasi pada kita semua, perlunya kehati-hatian dalam memilih makanan jajanan termasuk kesehatan lingkungan di mana kita memilih atau membeli jajanan tersebut. Selain itu kita perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan juga pemeriksaan terhadap makanan yang biasa kita konsumsi.

Sehat adalah pilihan….sehat adalah investasi… (adv)