Sinergisitas Antara Kota Dan Kabupaten Bogor

Kota Bogor – Sejak tahun 2010 Pemerintah Kota Bogor telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bogor. Kerjasama diantara kedua pemerintah daerah itu tertuang di dalam Nota Kesepakatan Bersama 100/2/NK/HUK/2010 dan Nomor 019/KK 5 – Tapem/2010 tertanggal 20 Mei 2010. Nota Kesepalatan Bersama itu terakhir diperbaharui dengan 119/25/XII/KB/KS/2014 dan Nomor 060/KK.24-Pem/2014 tertanggal 8 Desember 2014 tentang Kerjasama Antar Daerah Dalam Pelayanan Publik.

Ruang lingkup kerjasama meliputi 19 bidang. Diantaranya bidang penataaan ruang, lingkungan hidup, pariwisata, pendidikan dan kesehatan. Kerjasama tersebut dijalin untuk menyusun strategi dan langkah bersama diantara kedua pemerintah daerah, yang mengarah pada upaya mengatasi berbagai masalah yang timbul di kedua wilayah, akibat interaksi dan mobilisasi masyarakat yang bermukim di kedua wilayah administratif ini.

Misalnya masalah yang timbul dalam urusan transportasi. Kedua pihak perlu bekerjasama, karena gerak aktivitas masyarakat di kedua wilayah tidak dapat dibatasi hanya sebatas wilayah masing-masing. Mereka diantaranya memerlukan pelayanan transportasi yang menghubungkan antara pemukiman, yang rata-rata berada di wilayah kabupaten, dengan pusat berbagai jenis aktivitas yang berada di tengah kota.

Akibatnya tentu banyak permasalahan yang muncul di bidang transportasi. Antara lain masalah kepadatan angkutan umum yang beroperasi di wilayah kota. Sebagian diantara angkutan kota yang beroperasi di wilayah kota adalah angkutan kota dari wilayah kabupaten. Pengurangan angkutan umum dari kabupaten, dinilai bukan solusi utama karena kenyataannya masih masyarakat di kedua wilayah yang memerlukan jasa angkutan tersebut.

Di bidang pendidikan dan pelayanan publik lain seperti kesehatan juga demikian. Tidak mungkin sekolah-sekolah di wilayah kota misalnya menolak siswa dari kabupaten dan sebaliknya. Begitu juga tidak mungkin rumah sakit atau puskesmas yang berada di wilayah kota menolak masyarakat kabupaten yang memerlukan pelayanan kesehatan dan sebaliknya.

Belum lagi dalam soal penanganan sampah. Kota Bogor sangat memerlukan bantuan Kabupaten Bogor, terutama dalam penyedian Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Hal itu karena di wilayah kota sudah sulit ditemukan lahan luas yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir sampah.

Kerjasama diantara kedua pemerintah daerah, tidak semata-mata ditujukan untuk menangani masalah. Melainkan juga dimaksudkan untuk melakukan langkah-langkah bersama dalam memajukan perekonomian kedua wilayah untuk mendorong peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di kedua wilayah. Diperlukan langkah yang seiring dan sejalan untuk mendorong pemanfaatan berbagai jenis sumberdaya yang tersedia di kedua wilayah ini.

Setelah 8 tahun kerjasama tersebut dijalin, telah tercapai beberapa hasil. Sedikitnya ada empat hal yang berhasil dicapai. Masing-masing sebagai berikut :

  1. Penyerahan hibah tanah seluas kurang lebih 363 meter pesrsegi beserta bangunan di atasnya seluas 243 meter persegi. Lahan dimaksud berada di Jalan Gedong sawah IV dan diserahkan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk perluasan lahan SMP Negeri 2 Bogor.
  2. Pemerintah Kabupaten Bogor menuaikan kewajiban yang sama dengan Pemerintah Kota Bogor dalam hal pemanfaatan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di Galuga. Kewajiban dimaksud adalah memberikan kompensasi dampak lingkungan dan ganti untung lahan di wilayah TPAS Galuga.
  3. Promosi bersama penanaman modal di kedua wilayah dalam bentuk pameran dan media promosi bersama tentang penanaman modal.
  4. Promosi bersama dalam bidang pariwisata.

Tentu masih banyak hal lain yang pelu dicapai, untuk meraih tujuan yang dimaksud dari kerjasama ini. Oleh karena itu, baru baru ini, Walikota Bogor dan Bupati Bogor melakukan pertemuan untuk membahas kelanjutan kerjasama diantara kedua belah pihak. Secara administratif kesepakatan kerjasama yang berlaku selama ini akan segera berakhir pada tanggal 6 Juli 2019 mendatang.

Di dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Bupati Bogor, antara lain telah disepakati bidang yang dikerjasamakan. Diantaranya bidang transportasi, pendidikan dan kesehatan. Untuk bidang transportasi diantaranya akan diupayakan peleburan Terminal Laladon dan Terminal Bubulak sebagai terminal batas kota

Dalam hal pendidikan, diantaranya melakukan singkronisasi terkait berlakunya sistem zonasi dalam pendaftaran peserta didik baru. Sedangkan di bidang kesehatan, akan diupayakan penyelesaian permasalahan pelayanan pengobatan masyarakat lintas wilayah.

Diharapkan kerjasama yang telah disepakati tidak hanya sekadar sampai di atas nota kesepakatan. Untuk itu perlu konsistensi sikap kedua belah pihak agar dapat menindaklanjuti sampai pada tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan maupun pengawasan.

Itulah sinergi yang diperlukan untuk mendorong pengelolaan kedua wilayah ini berjalan lebih efektif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada serta mendorong terwujudnya pembangunan wilayah yang sukses. Itulah yang ditunggu oleh masyarakat Bogor yang bermukim di kota maupun kabupaten. (adv)

Mau Curhat Soal Kesehatan, Yuu Kita Tanya Dimobil Curhat

eng ing eng – Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dengan perkataan lain, masyarakat diharapkan mampu berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan dalam menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri serta berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.

Dalam Visi Kota Bogor “Kota Bogor yang Nyaman, Beriman dan Transparan”, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, serta perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan.

Erny Yuniarti, SKM, Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bogor

Perilaku masyarakat Bogor Kota Sehat yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memeliharadan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

Sejalan dengan Visi Kota Bogor, maka Dinas Kesehatan berkomitmen melalui Visinya yaitu“ Masyarakat Kota Bogor Sehat, Nyaman, Mandiri dan Berkeadilan”, memiliki tujuan meningkatkan perilaku sehat individu, keluarga dan masyarakat serta berperan aktif adalam setiap gerakan kesehatan masyarakat melalui upaya promosi kesehatan yang terintegrasi secara lintas program, lintas sektor, swasta dan masyarakat.

Fenomema di masyarakat sekarang adalah meningkatnya kejadian Penyakit Tidak Menular (PTM) yang disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat. Perilaku memilih makanan yang tidak sehat serta persepsi yang salah mengenai gizi seimbang memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap peningkatan PTM.

Sehingga diperlukan suatu inovasi dari pemerintah untuk penanganan masalah kesehatan dan masalah lainnya.Mobil Curhat merupakan mobil layanan konsultasi keluarga, gizi, dan kesehatan yang merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Bogor dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB. Latar belakang dibentuknya mobil curhat adalah untuk mengatasi permasalahan sosial dan kesehatan masyarakat Kota Bogor.

Mobil Curhat yang diluncurkan pada bulan Juli 2014 diharapkan dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, menjadi puskesmas/fasilitas kesehatan berjalan yang melayani masyarakat tentang keluarga, gizi, dan kesehatan..

Konsultasi gizi sering digunakan sebagai strategi awal dalam mengatasi masalah status gizi serta menurunkan resiko sindroma metabolic. Konsultasi diberikan bersamaan dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh (IMT), total lemak tubuh, dan lemak visceral menggunakan alat body composition analyzer. Sepanjang tahun 2017, terdapat lebih dari 3000 masyarakat Kota Bogor yang melakukan pemeriksaan dan konsultasi gizi.

Setelah melewati proses entry dan cleaning, maka terdapat 1237 data responden yang digunakan untuk melihat profil status gizi dari masyarakat Bogor yang melakukan pemeriksaan dan konsultasi di Mobil Curhat di tahun 2017.

Berdasarkan data grafik, pengunjung dengan jenis kelamin Perempuan (64,2%) lebih banyak mengunjungi layanan Mobil Curhat dibandingkan Laki-laki (35,8%). Sedangkan sebaran kelompok usia terbanyak pengunjung Mobil Curhat adalah pada kelompok usia 40-49 tahun (23%).

Data status gizi pengunjung Mobil Curhat menunjukkan bahwa hampir separuh dari total reponden memiliki status gizi normal (49%). Sedangkan dengan status gizi berlebih dengan kategori gemuk dan obes berturut-turut adalah sebanyak 31% dan 11%. Angka ini meningkat dibandingkan dengan hasil di tahun 2015 yang sebelumnya adalah 27% untuk kategori gemuk dan 9% untuk kategori obes.

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa menginjak kelompok usia 30-39 tahun, persentase responden yang memiliki status gizi lebih (gemuk) meningkat dua kali lipat dibandingkan kelompak usia 20-29 tahun. Peningkatan ini terus terlihat hingga kelompok usia 50-59 tahun.

Hal ini mencerminkan bahwa warga Bogor pada usia dewasa hingga dewasa lanjut cenderung memiliki pola makan yang dan gaya hidup yang kurang sehat. Jika dibiarkan, maka akan meningkatkan resiko terkena penyakit degeneratif di masa mendatang. Dengan demikian, perlu dilakukan upaya promosi tentang gizi seimbang pada kelompok usia tersebut. Pada usia 10-19 tahun memiliki kecenderungan gizi yang berbeda dengan kelompok usia diatasnya. 26,7% remaja memiliki gizi kurang/kurus.

Dari hasil wawancara, 100% usia remaja memiliki persepsi bahwa badan kurus adalah impian mereka, sehingga cenderung para remaja takut untuk mengkonsumsi makanan, melakukan diet yang salah sehingga hanya mengkonsumsi makanan ringan dan bergula. Apabila dibiarkan maka remaja akan kekurangan zat-zat gizi sehingga mengganggu pertumbuhan fisik maupun otak yang akan berpengaruh pada kualitas generasi muda yang akan datang.

Berdasarkan data tersebut, maka diperlukan upaya promotif dan preventif sesuai segmentasi masyarakat. Para remaja umumnya belum menggunakan pikiran rasional untuk menentukan keputusan. Mereka masih mengandalkan aspek psikologis, imitating, serta mudah terpengaruh. Pada sasaran usia remaja layanan mobil curhat perlu adanya inovasi melalui pendekatan psikologi.

Sehingga kedepannnya layanan mobil curhat harus lebih banyak menyasar pada usia remaja melalui sekolah tanpa mengabaikan pelayanan pada masyarakat lainnya. Penanganan masalah gizi masyarakat harus dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah pemberian informasi serta edukasi yang benar dan lengkap kepada masyarakat dengan melibatkan semua unsur di masyarakat, baik pemerintah, masyarakat, swasta dan akademisi.

(Advetorial, Laporan Hasil Data Mobil Curhat 2017 (Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB) yang disampaikan Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erny Yuniarti, SKM)